Sofyan Ali S.E. (Dok Pribadi)

Oleh: Sofyan Ali S.E*

MELAKUKAN perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang merupakan perjalanan yang sangat menegangkan bagi penulis, berbagai bentuk pikiran berkecamuk silih benganti. Tiba-tiba penulis dikejutkan dengan berita bahwa penulis harus melaksanakan tugas pelatihan ke negeri belanda nun jauh dari Indonesia. Sejak saat itu, hampir setiap saat penulis melihat peta baik secara online maupun peta bumi yang terpajang di ruang kerja, sembari mengukur jarak dan waktu tempuh dengan pesawat terbang.

Sesungguhnya ini berita baik yang penulis syukuri karena berkesempatan untuk mengenal lebih dekat negeri yang dalam sejarahnya telah menjajah Indonesia selama 350 tahun terutama dari aspek layanan publiknya seperti apa saat ini. Akan tetapi, disaat bersamaan ini adalah berita yang sangat menegangkan mengingat jarak tempuh yang luar biasa lama, kalau biasanya penulis sangat tegang dalam perjalanan Ternate-Jakarta yang ditempuh dalam kurun waktu sekitar 3 jama, maka bagaimana penulis dapat melewati ketegangan selamat lebih dari 14 jam penerbangan Jakarta-Amsterdam??? Sungguh ini adalah perjuangan psikologis yang sangat berat bagi penulis, oleh karenanya ketika penulis dapat melewatinya dan tiba di Amsterdam dengan selamat maka penulis langsung melaksanakan puasa sebagai sebuah nazar bagi penulis.

Sesaat setelah tiba di Amsterdam, penulis bersama rombongan Ombudsman RI dari kantor pusat dan beberapa provinsi di Indonesia yang berjumlah 14 orang mulai menelusuri sudut kota Amsterdam dan setiap kali. Menapaki sudut kota selalu saja ada kejutan, bukan saja terkait dengan eksotisme kota dengan cuaca yang sangat berbeda dengan kota-kota di Indonesia umumnya, akan tetapi terlebih dari itu adalah aspek pelayanan publiknya.

Kita disuguhi dengan fasilitas publik/barang publik beserta layanannya dengan system dan prosedur baku disertai dengan petugas/pegawai yang sangat disiplin.

Fasilitas publik yang pertama kali dicoba adalah jalan dan transporta umum. Dengan bermodalkan sebuah kartu khusus untuk transportasi dengan saldo yang cukup maka kita dapat menggunakan layanan transpotasi publik yang dikenal dengan nama train dan metro (kereta dalam kota) tanpa menggunakan uang cash/tunai. Tingkat konektifitas antar alat transportasi ini sangat baik sehingga perjalanan dapat dilakukan dengan ontime/tepat waktu.

Sarana jalan pun dibuat sedemikian rupa sehingga masing-masing pengguna jalan memiliki akses sendiri-sendiri dan tidak saling mengganggu yang menunjukkan bahwa kota Amsterdam ini dirancang dengan matang. Lajur train dan metro tersendiri, lajur untuk kendaraan mobil dan sepeda motor dengan kapasitas cc tertentu tersendiri  dan lajur untuk sepeda tersendiri disamping ada lajur untuk pejalan kaki yang sangat nyaman juga tersendiri. Semuanya dapat berfungsi dengan baik dengan tingkat disiplin masing-masing pengguna yang sangat tinggi.

Mungkin ini yang membuat penulis sangat kesulitan menemukan ada petugas lalulintas di jalan raya, hal yang sangat berbeda jauh dengan kondisi lalulintas jalan raya di kota-kota di Indonesia dimana pada setiap persimpangan jalan selalu kita temukan banyak petugas kepolisian sibuk mengatur arus lalulintas terutama pada jam-jam sibuk. 

Sebagai contoh ketika lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau maka saatnya penyebrangan bagi pejalan kaki dan saat itu tidak ada kendaraan lain yang melintas karena semua arah untuk kendaraan bermotor maupun kereta  pasti berhenti karena lampu merah untuk mereka, sehingga sangat aman bagi pejalan kaki saat menyeberang jalan. Hal yang berbeda kita temui di kota-kota di Indonesia termasuk di kota Ternate dimana pada setiap ada rambu lampu merah ketika lampu hijau bagi pejalan kaki  tapi saat yang bersamaan lampu hijau bagi kendaraan di arah yang berlawanan menyala sehingga membuat pejalan kaki tidak aman saat menyeberang, bahkan sering terjadi kecelakaan dalam kondisi seperti ini dan pejalan kaki sebagai korbannya.

Kota Amsterdam yang juga di kelilingi oleh kanal-kanal dan sungai-sungai kecil dan besar yang bersih menjadikan wilayah ini sebagai tempat lalulintas air, wisata dan tempat kehidupan satwa-satwa air yang baik, seperti angsa dan bebek-bebek kecil. Satwa-satwa ini hidup aman tanpa gangguan dari masyarakat setempat. Kehidupan satwa-satwa ini membuat kota Amsterdam semakin elok dan dinamis.

Ketika kami bertanya kepada beberapa warga setempat tentang kehidupan satwa-satwa tersebut mereka mengatakan bahwa satwaa-satwa tersebut dilindungi dan siapa saja yang menggangu atau membunuh satwa tersebut akan berurusan dengan pihak berwajib. Sambil bercanda teman seperjalan saya mengatakan bahwa bebek-bebek ini aman karena disini tidak ada warung bebek bakar/panggang, coba kalau ada mungkin bebek-bebek ini sudah habis dipanggang…..hhhhh.

Apapun itu bagi penulis adalah apa yang disaksikan di kota Amsterdam dan beberapa kota lainnya di belanda hendaknya dapat kita jadikan sebagai spirit perbaikan terutama dalam hal pelayanan publiknya. Orang mungkin beralasan bahwa budaya dan adat istiadat yang berbeda, akan tetapi dalam hal layanan publik semua orang ingin mendapatkan layanan yang berkualitas dari pemerintahnya dan ini ditunjukkan oleh pemerintah belanda dalam memberikan pelayanan kepada warga masyarakatnya.

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia sendiri baik di pusat maupun di daerah ??? Satu hal yang pasti bagi penulis saat ini adalah harus kembali menghadapi ketegangan penerbangan 17 jam dari Amsterdam-Jakarta-Ternate. Save my flight, semoga.

Wassalam. ***

* Penulis adalah Ketua Perwakilan Ombudsman Maluku Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here