BERITABUANA, JAKARTA – Kejaksaan Agung akhirnya menahan mantan Direktur Utama PT Pertamina (persero), Karen Galaila Agustiawan, pada Senin (24/9/2018).

Karen ditahan, setelah sebelumnya menjalani pemeriksaan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, pagi hari. Dia keluar  dari ruang pemeriksaan dengan Rompi Pink bertuliskan tahanan Kejaksaan Agung. Ia terlihat meneteskan air mata.

Tangisan itu pun terlihat saat berpelukan dengan para sahabatnya  sebelum memasuki mobil tahanan.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirdik pada JAmpidsus), Warih Sadono membenarkan adanya pemeriksaan Mantan Direktur Utama PT Pertamina (persero), Karen Galaila Agustiawan oleh penyidik pidana khusus di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, hari ini, Senin (24/9/2018).

Karen Galaila Agustiawan itu diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar. “Ya, benar diperiksa,” katanya.

Sebelumnya lagi, pada Rabu, Karen Galaila Agustiawan, masih belum ditahan. Sementara dua tersangka lainnya langsung dilakukan penahanan usai menjalan pemeriksaan beberapa waktu lalu. Dua tersangka itu yakni mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto dan Mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik Siahaan.

Frederik Siahaan ditahan penyidik di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejaksaan Agung RI selama 20 (dua puluh) hari terhitung mulai tanggal 30 Agustus 2018 sampai dengan 18 September 2018.

Penahanan berdasarkan surat perintah penahanan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-20/F.2/Fd.1/08/2018 tanggal 30 Agustus 2018. Sementara mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto, juga  ditahan penydik ditempat yang sama.

kasus ini menetapkan empat orang tersangka yakni Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Galaia Agustiawan. Sedangkan tiga tersangka lainnya yakni Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina berinisial Bayu.

Para terrsangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Runtutan Kasus

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31,492,851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26,808,244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT.

Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak Nasional yang mengakibatkan adanya Kerugian Keuangan Negara cq. PT. Pertamina (Persero) sebesar 31,492,851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000 sebagaimana perhitungan Akuntan Publik. (Rul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here