BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan tersangka dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, pada tahun 2009, bisa bertambah.

“Ada empat orang yang dinyatakan penyidik sebagai tersangka dan calon tersangkanya akan berlanjut terus,” kata Jaksa Agung H.M. Prasetyo kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (21/9).

Dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka, kata dia, ada tahapan yang harus dilalui, di antaranya ada bukti permulaan yang cukup.

“Sebagaimana kita ketahui, proses perkara itu harus betul-betul cermat dan hati-hati, tidak bisa sembarangan dan sembrono karena kita mengharapkan hasil yang maksimal,” katanya.

Sementara itu, keempat tersangka dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp568 miliar itu, di antaranya mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan sesuai dengan surat perintah penyidikan (sprindik) Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018, tanggal 22 Maret 2018.

Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina (Persero) Genades Panjaitan (GP) berdasarkan Sprindik Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS) berdasarkan sprindik Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero), inisial BK berdasarkan sprindik Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018, tanggal 23 Januari 2018.

Tersangka dikenakan Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus itu berawal pada tahun 2009 PT Pertamina (Persero) melakukan kegiatan akuisisi (investasi non-rutin) berupa pembelian sebagian aset (interest participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd. di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan “Agreement for Sale and Purchase-BMG Project” pada tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaannya, ditemui dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi, yakni tanpa adanya “feasibility study” (kajian kelayakan) secara lengkap dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Hal itu mengakibatkan peruntukkan dan penggunaan dana sejumlah 31.492.851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26.808.244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Hal itu mengakibatkan adanya kerugian keuangan negara c.q. PT Pertamina (Persero) sebesar 31.492.851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000,00 sebagaimana perhitungan akuntan publik. Oisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here