BERITABUANA, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Panitia Kongres 36 GMKI Sterra Pieters dan kawan-kawannya dilaporkan ke polisi.

Pelaporan itu dilakukan peserta kongres Charles Hutahaean dkk, lantaran sudah dilukai dan menjadi korban keberingasan sejumlah peserta kongres dan massa bayaran di sekitar arena Kongres ke-36 GMKI di Green Forest Hotel, Batutulis, Jawa Barat, kemarin.

“Kami sudah melaporkan ke Polsek Bogor Selatan dan ke Polresta Bogor. Sahat Sinurat, Sterra Pieters dan gerombolannya yang sebagian diduga massa bayaran yang melakukan aksi massa dan memukuli para peserta kongres itu harus ditindak tegas dan dihukum,” tutur Charles Hutahaean kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/09/2018).

Charles Hutahaean yang maju sebagai calon Ketua Umum PP GMKI di kongres ini mengaku sengaja dijegal dan di-busuki dengan cara-cara curang oleh Ketua Umum PP GMKI Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Kongres 36 GMKI Sterra Pieters dan kawan-kawannya.

“Saya dan teman-teman saya dipukuli, hingga luka-luka. Dikejar-kejar oleh massa bayaran yang beringas, sebagian dari mereka adalah massa yang sudah mabok, karena berbau minuman keras. Semua lokasi kongres di-sweeping oleh sebagian peserta dan massa yang tak dikenal untuk menghabisi kami,” tuturnya.

Situasi chaos, lanjut dia, terjadi dikarenakan pemaksaan dilakukannya persidangan kongres satu hari satu malam tanpa istirahat.

“Sudah tidak manusiawi kondisi peserta kongres. Kondisi fisik dan psikologis sudah kelelahan, ngantuk berat, lapar dan haus, tetapi kok harus dipaksakan?” ujarnya.

Charles Hutahaean dkk yang merupakan peserta dari GMKI Cabang Jakarta, melakukan interupsi kepada pimpinan Majelis Persidangan Kongres, agar di-skors sementara untuk memberikan waktu istirahat. Namun, proses interupsi itu malah direspon dengan aksi massa dan tawuran oleh sekelompok orang yang beringas.

Menurut Charles Hutahaean, situasi itu sudah dikondisikan dan dipaksakan oleh Ketua Umum PP GMKI Sahat MP Sinurat dan Ketua Pelaksana Kongres Sterra Pieters dkk agar kongres seolah berjalan normal, padahal sedang dipaksakan.

“Kami hendak melaksanakan kongres yang benar, malah kami yang dilempari bangku, dilempari kursi, dilempari gelas-gelas, piring dan dikejar-kejar oleh orang-orang yang sudah beringas,” ujarnya.

Pemaksaan demi pemaksaan itu terus berlanjut sehingga menimbulkan sumbatnya penyampaian aspirasi peserta kongres yang berasal dari berbagai daerah Indonesia.

“Terjadi proses persidangan kongres yang tidak fair, penyampaian aspirasi yang di-kooptasi oleh panitia dan oknum-oknum Pengurus Pusat. Alhasil, terjadi gesekan yang menimbulkan tawuran peserta, kisruh dan saling pukul-pukulan. Itu tidak terjadi sekali, tetapi beberapa kali. Namun mereka tetap memaksakan proses kongres harus diteruskan,” tutur pria yang berprofesi sebagai advokat itu.

Sebagai peserta forum kongres GMKI, Charles dan kawan-kawannya sesama peserta kongres pun menjadi korban pemukulan dan aksi massa yang sudah dipengaruhi minuman keras oleh peserta yang mabok dan orang-orang yang tak dikenal di area penyelenggaraan kongres.

“Disinyalir, orang-orang mabok dan telah disuguhi minuman keras itu adalah orang-orang suruhan panitia, orang-orang suruhannya Sterra Pieters dan Sahat MP Sinurat,” tuturnya lagi.

Diketahuo, pada hari terakhir pelaksanaan kongres yakni Rabu (19/09/2018) kemarin, sebagian peserta sudah diungsikan ke sejumlah lokasi di sekitar areal kongres. Menurut Charles, hal itu dilakukan Sterra Pieters yang merupakan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu untuk pengkondisian.

Sementara sebagian peserta kongres lainnya tetap dipaksakan mengikuti persidangan sejak pagi hari Selasa (18/09/2018) hingga Rabu malam, tanpa istirahat. Kondisi itu turut memancing sejumlah peserta yang kelelahan, kelaparan dan kehausan mudah tersulut emosi.

Setelah menyelamatkan diri dari amukan massa, Charles dkk dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan atas luka-luka yang dialami. Setelah itu, mereka melaporkan kejadian itu ke Polsek Batutulis, Bogor Selatan dan ke Polresta Bogor.

Kongres 36 GMKI dijadwalkan berlangsung para tanggal 12 September 2018 hingga 17 September 2018. Namun, telah terjadi kecurangan penyelenggaraan, karena dibuka para 14 September 2018 dengan menghadirkan Presiden Jokowi. Hingga kisruh pada 19 September 2018, kongres sudah melewati jadwal. (Ardi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here