BERITABUANA, JAKARTA – Masih terngiang dalam diri Na Dhien soal pementasannya di Gombong. Karena niatnya untuk nguri-uri budaya dengan membawa buku “Mung Ngabekti” mendapat sambutan hangat di salah satu kota kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu.

Kedatangannya ke Gombong untuk kali kedua pada Sabtu (8/9) lalu sangat memberi energi buatnya, kawan-kawan dari luar kota, dan para ‘saudaranya’ di Gombong sendiri.

“Aku sudah merasa Gombong adalah keluargaku, suasana persaudaraan sangat kami rasakan layaknya seorang perantau pulang mudik. Jiwa seni budaya begitu melekat, jadi tak butuh waktu lama untuk menyatukan persepsi bagaimana kemasan acara saat kami merencanakan malam hari sebelumnya,” kisah Na Dhien yang sastrawati itu.

“Ke-aku-an sebagai seorang profesional seniman tak ada. Padahal, mereka tokoh-tokoh seni yang sudah berkiprah banyak,” lanjutnya.

Ada guru, yang selain tampil, ada yang membawa siswanya para peserta lomba baca puisi tingkat kabupaten dan provinsi ikut bergabung. Sekaligus melatih mental mereka tampil di panggung sesungguhnya.

Ada pakar mocopat yang menggiatkan seni mocopat tidak hanya para orang tua, namun remajanya banyak yang suka “nembang”.

Ada dalang yang lebih suka disebut pegiat budaya. Pak Eko, namanya. Ia berkolaborsi dengan suluknya saat salah satu penampil geguritan beraksi.

Ada dalang muda dari kecamatan Ayah, Kebumen, Imam Novianto, jadi pengiring musik latar dengan ‘gender’ dan ‘rebab’ mengiringi seluruh acara, sehingga suasana beragam: syahdu, bersahaja, klasik, dan menyatu banget.

Ditambah seluruh tamu yang hadir hampir semua mengenakan busana daerah. Seperti kebaya, beskap, busana pendekar lengkap dengan keris dan gobang terselip di pinggang, blangkon, iket dan kethu di kepala, baju etnik kejawen yang sangat tidak biasa di acara formal, dan umumnya hanya dikenakan para penampil.

Termasuk, Kabid Paud Diknas dan Kebudayaan, Aminah SPd, MPd, yang mewakili kepala dinas dalam sambutannya sangat bangga dan mengapresiasi geguritan Mung Ngabekti di mana sebagai perwujudan karya yang mengarah pada karakteristik budaya bangsa Indonesia, dalam hal ini bahasa Jawa.

Tujuan memantik para muda untuk tak sekadar berkarya sastra daerah, namun itu penting bahwa nguri-uri itu ya dengan membiasakan kembali bahasa ibu sebagai bahasa tutur. Sebab akhir-akhir ini banyak sekali warga negara asing yang intens belajar budaya dan bahasa daerah hingga mereka fasih bahkan profesional menguasai bahasa juga seni daerah. Berharap Mung Ngabekti akan berlanjut dan kembali dengan karya lainnya bersama masyarakat seni Gombong Kebumen, meningkatkan kecintaan pada bahasa ibu agar tidak hilang dari bangsa Indonesia.

Dukungan Roemah Martha Tilaar yang sangat apresiatif terhadap seni budaya daerah tanpa proses yang rumit. Bahkan, sangat terbuka untuk menjembatani niat Na Dhien dan banyak sekali pegiat seni budaya mengadakan acara di sana sangat memuaskan.

Bangunan kuno yang masih asli dan sangat terawat membuat siapa pun tergugah untuk mencintai budaya generasi sebelumnya. Bahwa kita ini bangsa cerdas, santun, dan terbuka.

Sigit Asmodiwongso yang dipercaya Martha Tilaar sebagai seorang profesional sederhana, namun cerdas. Ia mengelola Roemah Martha Tilaar itu menjadikan rumah bersejarah itu seolah museum seni budaya yang tak hanya menyimpan daftar pustaka, namun lebih dari itu. Di sana menjadi ruang publik berkesenian, berkarya, dan berinteraksi dalam bidang apa pun. Siapa saja yang datang ke RMT — singkatan Roemah Martha Tilaar — pasti berdecak dengan bangunan dan berbagai event yang telah diadakan di sana.

Begitu pula, pembicara yang mengulas Mung Ngabekti adalah Sosiawan Leak dari Solo, sang budayawan yang telah diakui obyektifitasnya, bersama Soekoso DM, budayawan senior dari Purworejo. Ikut membuat antusiasme tersendiri bagi masyarakat seni budaya Gombong, Kebumen, Jateng, dan sekitarnya untuk hadir.

Tak kurang seratusan orang datang mengapresiasi peluncuran geguritan Mung Ngabekti. Bahkan, aparat kepolisian Polres Kebumen yang diwakili Wakapolres Kompol Prayudha sekaligus membaca satu geguritan mendapat respon sangat positif oleh seluruh yang hadir.

“Aku bersyukur. Mung Ngabekti, meski tak luput dari kekurangan, setidaknya sebagai sebuah niat melestarikan bahasa ibu dan mengajak kembali mencintai, mengenalkan, menggunakan kembali bahasa ibu sejak anak-anak; selain di sana banyak ajaran karakter budi pekerti luhur apa pun bahasa daerah itu, juga agar kita tidak kehilangan kekayaan budaya. Lalu, lebih parahnya kita belajar budaya sendiri dari warga asing yang kini makin banyak mencintai dan mempelajari bahasa seni dan budaya Indonesia,” jelas Na Dhien. (Daf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here