BERITABUANA, JENEWA – Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menilai tingkat kekejaman yang dilakukan militer Myanmar terhadap minoritas Rohingnya ‘sulit dimengerti’. Aksi militer itu sudah masuk dalam empat dari lima kategori tindakan genosida.

Para penyelidik PBB membuat sebuah laporan setebal 444 halaman yang dirilis pada Selasa (18/9). Mereka menggambarkan kampanye penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap warga Rohingya oleh pasukan bersenjata Myanmar sebagai kebrutalan ekstrem.

Para penyelidik mengutuk impunitas dan kekuatan ekstrem militer di negara tersebut. Mereka mendesak militer dihapus dari politik, menyerukan agar enam tokoh senior militer dituntut di pengadilan internasional atas tuduhan melakukan genosida.

Laporan penyelidik PBB dirilis lebih dari satu tahun setelah Myanmar memulai operasi militer berdarah terhadap komunitas Rohingya di Rakhine. Operasi militer yang dilakukan sebagai respons atas serangan kelompok militan Rohingya terhadap puluhan pos polisi itu telah memaksa sekitar 700.000 warga Rohingya eksodus ke Bangladesh.

Laporan penyelidik PBB secara khusus menyoroti serangan militer di Desa Tula Toli, atau Min Gyi, di mana tentara menembak orang-orang desa yang melarikan diri dari tepi sungai, kemudian menangkap mereka yang melarikan diri sesuai dengan jenis kelamin mereka.

Menurut laporan itu, para pria Rohingya dibunuh, sedangkan anak-anak ditembak atau dibuang ke sungai atau pun dilempar ke api.

Para perempuan dan gadis Rohingya juga dibawa ke rumah-rumah, di mana mereka dipukuli dan diperkosa dengan kejam. Beberapa dari mereka ada yang ditikam dan dibunuh di dekat anak-anak mereka yang masih kecil.

PBB memperkirakan sekitar 750 orang tewas dalam serangan itu, dalam apa yang mereka sebut sebagai serangan yang direncanakan dengan baik dan disengaja terhadap para penduduk sipil tertentu. (Daf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here