BERITABUANA, JAKARTA – Anggota Komisi II DPR Eddy Kusuma Wijaya mengusulkan pada pemerintah supaya memprioritaskan tenaga honorer kategori 2 (K2) sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018. Diingatkan, tenaga honorer K2 ini termasuk pejuang bangsa, karena sudah mengabdi selama puluhan tahun tetapi dengan gaji atau honor yang minim.

Halangan bagi tenaga honorer K2 untuk diangkat sebagai PNS adalah soal usia. Karena umumnya mereka sudah melebihi 35 tahun. Sementara, tenaga honorer K2 yang umurnya sampai 35 tahun sudah diangkat pemerintah sebagai PNS.

“Jadi, kita usulkan tenaga honorer K2 yang sudah melebihi umur 35 tahun justru mendapat prioritas untuk diangkat sebagai PNS,” imbuh Eddy Kusuma Wijaya kepada beritabuana di Gedung DPR RI, Rabu (19/9/2018).

Tenaga honorer K2 menurut politisi PDI Perjuangan ini pada umumnya adalah guru dan tenaga medis seperti perawat dan bidan, yang sudah jelas tenaga mereka dibutuhkan oleh masyarakat.

Eddy mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak mengangkat tenaga honorer K2 untuk menjadi PNS, termasuk persoalan anggaran yang tidak cukup untuk menggaji merteka. Sebab dari kajian yang pernah dibuat, ada pegawai pemerintah di Indonesia yang mendapat prioritas seperti pegawai petugas pajak dan petugas Bea Cukai maupun pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang digaji mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Karena itu, Eddy Kusuma Wijaya mempertanyakan, sikap pemerintah yang tidak memprioritaskan nasib tenaga honorer K2, pada hal mereka adalah pahlawan kemanusiaan.

“Coba bayangkan nasib seorang perempuan yang mau melahirkan, yang menolongnya siapa kalau bukan bidan dan perawat, bukan dokter,” ujar Eddy.

Dia menambahkan, berlarut-larutnya nasib tenaga honorer K2 ini menjadi perhatian Komisi II DPR sehingga membentuk panitia kerja(panja) permasalahan anggaran sipil negara. (Ndus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here