Pengusaha Hiburan Malam Kelas Atas Jadi Tersangka Penipuan

BERITABUANA, JAKARTA – Kasubdit Reserse Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Jerry Siagian membenarkan pihaknya menetapkan Arifin Wijaya alias Pepen sebagai tersangka kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan surat, dan atau memasukan keterangan palsu dalam akta otentik jual beli tanah di kawasan Tangerang.

Pepen sendiri diinformasikan salah satu penguasaha hiburan malam cukup terkenal di wilayah Jakarta Barat.

Selain Pepen, kata Jerry, penyidik juga menetapkan dua orang tersangka lain atas nama Ahmad Asnawi (Sam) dan Martianis selaku notaris. Keduanya, telah dilakukan penahanan di Ruang Tahanan Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Lebih jauh Jerry menjelaskan, pihaknya menetapkan ketiganya sebagai tersangka setelah melakukan penyelidikan, pemeriksaan, meminta keterangan ahli, dan gelar perkara.

“Saat ini penyidik sedang melengkapi berkas perkara dan melakukan pemberkasan untuk dikirimkan ke kejaksaan,” kata Jerry Sabtu (8/9/2018).

Ada Laporan

Awal pengungkapan kasus ini ketika Jerry Bernard selaku kuasa hukum korban Hengki Lohanda melaporkan Sam, Martianis dan Pepen, dengan nomor LP/1678/IV/2017/PMJ/Dit.Reskrimum tanggal 5 April 2017, tentang kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan surat, dan atau memasukan keterangan palsu dalam akta otentik terkait jual-beli tanah.

Pihak terlapor dituduh pelapor melanggar Pasal 378 KUHP, Pasal 372 KUHP, Pasal 264 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP.

Kemudian Felix, salah satu kuasa hukum Hengki menjelaskan, kasus ini bermula ketika kliennya hendak membeli tanah seluas 53 hektare yang dijual tersangka Pepen, di kawasan Kabupaten Tangerang. Kedua belah pihak, kemudian melakukan proses penandatangan Akte Pengikatan Jual Beli dengan nomor 52, dihadapan Notaris Martianis, di Tangerang, tanggal 27 Februari 2017. Tapi pada saat negosiasi Pepen tidak pernah memperlihatkan surat-surat kepemilikan.

“Surat-surat diserahkan ke notaris (Martianis) yang ditunjuk pihak penjual. Dia tidak memperbolehkan berkas kepemilikannya difoto copy, setelah pelunasan baru akan diberikan,” katanya.

Ia menambahkan, ketika tanda tangan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), pihak pembeli diminta membayar uang muka 30 persen dari total harga tanah sebesar Rp 11 miliar. Namun, Hengki terlebih dulu meminta kepada Pepen untuk mengurus peta bidang tanah atau nomor identifikasi bidang (NIB), di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tangerang.

Setelah diurus, katanya, akhirnya dalam PPJB tercantum bidang tanah serta NIB. Kemudian Hengki melakukan tanda tangan dan membayarkan uang muka sebesar 30 persen. Tapi setelah dilakukan pengecekan, ternyata NIB salinan PPJB itu bukan produk dari BPN Tangerang. Bahkan, BPN Tangerang belum pernah melakukan pengukuran pada bidang tanah tersebut.

Hengki kemudian mengirimkan surat kepada Pepen dengan tembusan notaris Martianis tentang kejanggalan kalau NIB ini bukan produk BPN Tangerang. Pepen tidak merespon, sementara pihak notaris mengakui kalau NIB itu bukan produk BPN, melainkan dari kelurahan. Merasa dirugikan, Hengki pun mengambil langkah hukum dan melaporkan Pepen, Martianis dan Sam ke Polda Metro Jaya. (Min)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *