Komarudin : Secara Hukum Bekas Napi Korupsi Boleh Menjadi Caleg

BERITABUANA, JAKARTA – Sengkarut menyoal  calon anggota legislatif mantan terpidana korupsi menurut Komarudin Watubun, Anggota MPR Fraksi PDI Perjuangan tidak akan terjadi, jika Komisi Pemilihan Umum (KPU), melaksanakan tugasnya dengan baik, menjadi wasit yang adil bagi semua pemain. Tidak perlu mendengar dan mengikuti arus opini di tengah masyarakat, apalagi sampai terlibat masuk ke persoalan etik.

“Kita sudah sepakat, bahwa dasar negara kita adalah hukum sedangkan etika itu adanya di atas hukum, semestinya KPU tidak perlu sampai ke sana”, kata Komarudin Watubun berbicara dalam diskusi Empat Pilar MPR dengan tema “Rekruitmen Calon Anggota Legislatif” di Media Center Gedung Musantara III di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (3/9/2018). 

Selain  Komarudin Watubun, diskusi tersebut juga menghadirkan anggota MPR kelompok DPD, Dapil Bangka belitung Bahar Buasan. 

Persoalan caleg mantan terpidana korupsi, kata Komarudin sudah selesai sebelum PKPU diundangkan. Bahkan sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi yang membolehkan mantan napi untuk ikut pileg. Yaitu, purusan MK tahun 2016, terkait uji  materi UU No 10 tahun 2016.

“Jadi seharusnya, KPU tidak membuat persyaratan caleg yang bertentangan dengan  putusan MK,” tambahnya lagi.

Untuk menghindari anggota DPR melakukan tindak pidana korupsi, PDI Perjuangan sendiri menurut Komarudin sudah  melakukan pendidikan politik kepada para caleg.

Tetapi ia mengakui, untuk merubah perilaku seseorang,  itu tidak gampang. Butuh waktu lama, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. 

“Setiap pejabat negara selalu disumpah sebelum memegang kekuasaannya. Karena itu PDI Perjuangan selalu concern terhadap persoalan kebangsaan, apalagi saat ini kita sedang diusik persoalan persatuan,” katanya.  

Sementara itu anggota DPD Dapil Bangka Belitung Bahar Buasan mengatakan, daripada berpolemik menyoal boleh tidaknya mantan napi korupsi menjadi caleg, dia memilih melakukan pendidikan politik kepada generasi muda.

Melalui Rumah Aspirasi Buasan, ia melakukan  pendidikan politik generasi muda lintas agama dan etnik. Bahkan guru-guru yang mengajar pun dari berbagai agama dan daerah. 

“Agar, pada saatnya, ketika mereka menjadi pemimpin, mereka menjadi pemimpin yang baik,” kata Bahar Buasan menambahkan. (Jimmy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *