Di Peringatan HUT 73 DPR RI, Ketua DPR Ingatkan Kalau Negeri ini Diliputi Apatisme

BERITABUANA, JAKARTA – Ketua DPR Bambang Soesatyo mengungkapkan keadaan negeri kita saat ini. Dalam pidatonya di Rapat Paripurna Peringatan HUT DPR RI ke 73 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (29/8/2018), dia mengatakan bahwa kehidupan negeri ini sedang diliputi apatisme dan pesimisme, riuh kegaduhan tapi miskin solusi.

“Tak hanya itu, negeri ini banyak gerakan jalanan tanpa kejelasan arah yang benar, rasa saling percaya lenyap dalam pergaulan, kemudian kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan, toleransi, keragaman, dan perbedaan dibenci,” sebutnya.

Politik identitas pun kembali dirayakan. Sebab utamanya kata Bambang, tak lain tak bukan, karena kita mengalami krisis nilai kebangsaan, akibat keterbelakangan dibidang pembangunan nilai.

“Oleh karena itu, terasa penting untuk memperhatikan jalinan erat antara nilai-nilai budaya, kebangsaan, politik dan ekonomi sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan,” kata Bambang.

Pada hal lanjut dia, lagu Indonesia Raya dengan jelas mengingatkan kita dalam bait “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”.

Nah, kata Bambang, kedua sayap pembangunan itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus bergerak serempak, selaras dan seimbang.

“Itu lah refleksi dan renungan kita bersama sebagai bangsa bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun DPR RI yang ke 73,” ujar Bambang dalam rapat paripurna yang hanya dihadiri 265 anggota DPR dari semau fraksi.

Sebelumnya dia mengatakan, posisi DPR sebagai lembaga tinggi negara menjadi garda terdepan dalam merawat dan menjaga rumah bersama bernama Indonesia dengan penyangga empat pilar kebangsaan, yakni, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

“Kita menyadari sepenuhnya, bahwa politik kebangsaan merupakan ruh, nyawa, obor dan energi positif DPR untuk menjaga negara bangsa Indonesia dari segala macam tantangan, gangguan dan ancaman, baik yang bersifat domestik maupun global,” kata Bambang.

DPR, tambah dia, selalu tampil di depan dalam membendung arus politik idiologi apa pun yang bisa merongrong dan mengancam nilai-nilai kebangsaan dan keutuhan bangsa Indonesia. (Ndus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *