Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Terancam Ditahan Kejagung

BERITABUANA, JAKARTA – Menyusul penetapannya sebagai tersangka dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia, mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan terancam bakal ditahan oleh tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung).

“Ya nanti bertahaplah, tidak semuanya harus bersama-sama (dengan tersangka lain-red). Adakalanya bisa seperti itu, nanti kita lihat dulu,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo menjawab kemungkinan penahanan Karen Agustiawan dalam perkembangan penyidikan kasus tersebut, di Kejaksaan Agung, Jumat (10/8).

Meski demikian, Prasetyo memastikan bahwa proses penyidikan kasus dugaan korupsi investasi BMG Pertamina ini dilakukan secara transparan, obyektif dan tidak tebang pilih.

“Jadi prosesnya (penyidikan) masih berjalan, tunggu saja ya,” ujar Jaksa Agung. Karen ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018. Selain Karen, penyidik juga telah menetapkan tiga orang tersangka lainnya.

Masing-masing, Chief Legal Councel and Compliance PT. Pertamina (pada saat kasus terjadi) berinisial Genades Pandjaitan, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (persero) berinisial Frederik Siahaan, dan mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina, Bayu Kristanto.

Sebelumnya, tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) telah menahan tersangka Bayu Kristanto. Sedangkan tiga tersangka lain, belum jelas kapan dilakukan penahanannya.
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Adi Toegarisman secara terpisah menyatakan, penahanan tersangka Bayu Kristanto untuk memudahkan penyidikan, karena dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti serta mempengaruhi orang lain atau saksi.

Menurut Adi, tersangka melakukan penyelewengan investasi pada Blok BMG Australia oleh Pertamina tahun 2012 yang diduga merugikan negara sebesar Rp568 miliar.

“Saat proses itu, seharusnya ada hasil due diligence (uji tuntas) dulu. Tapi ini proses (investasi) terus berjalan kan, tanpa ada due diligence itu. Selain itu kan harus ada penelitiannya dulu, tapi ini kan malah dilanggar,” kata Adi.

Seperti diketahui, perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project itu diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai US$31 juta. Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari.

Ternyata Blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi. Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Hasil penyidikan Kejagung menemukan dugaan penyimpangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasibility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara cq Pertamina sebesar US$31 juta dan US$ 26 juta atau setara Rp568 miliar. Oisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *