Beritabuana.co

Opini

Tasdi dan Riwayat PDI Perjuangan

Andoes Simbolon

Oleh: Andoes Simbolon
MENYIMAK kisah masa lalu Bupati Purbalingga Tasdi yang di OTT KPK, Senin(4/6/2018) lalu, saya tersenyum sendiri. Kenapa? Ternyata perjalanan hidupnya cukup menarik. Di masa Orde Baru, Tasdi pernah berprofesi sebagai sopir truk, angkut sayur dari kaki Gunung Slamet dibawa ke pasar.

Angin reformasi yang melanda Indonesia tahun 1998 pun ikut membawa perubahan dalam hidup Tasdi. Disebutkan, Tasdi banting setir dan mengawali kiprah politik menjadi anggota DPRD Purbalingga periode 1999-2004 dari PDI P.

Nah, bagian ini yang membuat saya tersenyum. Saya jadi teringat dengan cerita-cerita yang pernah saya dengar sebelumnya, yaitu adanya anggota DPRD dari PDI P berlatarbelakang sama atau mirip seperti Tasdi. Mereka sebelumnya “orang pasar” atau “orang jalanan”, pengangguran dan kerja serabutan, kemudian terjun ke dunia politik dan menjadi anggota dewan. Hebat bukan?

Bisa kita bayangkan seperti apa perubahan status sosial yang tiba-tiba meningkat seperti yang terjadi sama Tasdi. Satu hal yang pasti, dari sisi materi, kocek mereka jelas bertambah. Penambahan kocek itu pun telah merubah tampilan fisik masing-masing, karena sebagai anggota dewan, busananya pun sudah harus menyesuaikan diri dengan status barunya. Sepatunya juga sudah mengkilap. Sisiran rambutnya juga semakin rapi mengkilap dan cingklong.

Pokoknya, banyak lah yang berubah, misalnya sudah bisa punya mobil dan rumah. Lebih hebat lagi, pejabat pemerintah setempat pun selalu menaruh rasa hormat sama mereka, misalnya jika bertemu, pejabat itu akan mengangguk lalu memberi salam disertai senyum. Mereka itu dipanggil sebagai bapak yang terhormat.

Sekali lagi, bisa kita bayangkan seperti apa perasaaan mereka ketika menjalani perubahan hidup yang demikian drastis itu. Apabila mereka ada tugas ke Jakarta, jangan pikir mereka akan menginap di hotel melati atau losmen. Penginapan mereka minimal hotel bintang dua. Bahkan jika dia pimpinan dewan atau pimpinan komisi, bisa menginap di hotel bintang tiga atau bintang empat. Pergaulan mereka pun bertambah dan semakin luas. Jika membuat janji dengan kolega, mereka akan bertemu di cafe hotel atau disebuah restauran berkelas. Hidup mereka menjadi berubah 36 derajat. Dengan kata lain, sejak menjadi anggota dewan, mereka sudah punya penghasilan menetap setiap bulan, ditambah macam-macam tunjangan.

Bagaimana Tasdi bisa menjadi anggota DPRD Purbalingga? Dia memang terbilang bernasib baik. Kisahnya menjadi anggota dewan tidak bisa dilepaskan dari riwayat Partai Demokrasi Indonesia(PDI) sendiri, yang mengalami perpecahan tahun 1996. Karena konflik internal, PDI saat itu terbagi dua, yakni PDI yang dipimpin Soerjadi dan PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri. Soerjadi adalah Ketua Umum DPP PDI hasil kongres di Medan 1996. Kongres ini digagas kubu Fatimah Achmad tetapi didukung dan direstui oleh pemerintah dan ABRI.

Sedang Megawati tetap mengklaim dirinya sebagai Ketua Umum DPP PDI yang sah , karena telah dikukuhkan dalam forum musyawarah nasional atau Munas di Kemang, Jakarta Selatan tahun 1993.

Tak bisa dihindarkan, perpecahan PDI ditingkat atas itu ikut merembet ke bawah, di tingkat provinsi, kabupaten/kota termasuk ke tingkat kelurahan atau desa. Ada DPD dan DPC PDI pro kongres serta DPD dan DPC pro Megawati.

Praktis, pada waktu kongres di Medan itu digelar, kepengurusan DPD, DPC PDI diseluruh Indonesia juga ikut pecah. Ada yang setuju kongres, dan ada yang menolak kongres. Sayangnya, pengurus partai di daerah jumlahnya lebih banyak pendukung kongres dibanding penentang kongres. Sama halnya di tingkat DPP, pendukung kongres lebih banyak dibanding penolak kongres. Selain Megawati dan Alexander Litaay, yang tetap mempertahankan DPP PDI hasil Munas adalah Mangara Siahaan, Haryanto Taslam, Noviantika Nasution, Soetardjo Suryoguritno, Jhon Sare, Kwik Kian Gie, Laksama Sukardi dan Suparlan. Selebihnya adalah penggagas dan pendukung kongres.

Namun, selepas kejadian penyerbuan kantor DPP PDI , Sabtu 27 Juli 1996 itu, kubu Megawati terus melakukan konsolidasi termasuk konsolidasi organisasi. Alex Litaay, Mangara, Haryanto Taalam dan Noviantika turun ke daerah guna merapikan, membenahi struktur kepengurusan partai yang sudah amburadul. Kader yang tetap setia kepada Megawati sekuat tenaga menata untuk melengkapi kembali susunan DPD dan DPC PDI . Hal ini semata-mata menunjukkan eksistensinya , bahwa PDI pro Megawati masih ada.

Nah, reorganisasi PDI kubu Megawati ini tidak mudah, berat dan penuh tantangan. Mencari orang untuk dijadikan pengurus PDI tingkat provinsi atau kabupaten/kota susahnya bukan main. Masalahnya, ada ketakutan kepada penguasa ketika itu jika bergabung dengan PDI Megawati Soekarnoputri. Mereka tidak ingin bermasalah atau menghadapi masalah dengan penguasa di daerah termasuk dari aparat keamanan. Orang-orang yang berpendidikan pada umumnya lebih memilih aman dengan mendukung PDI Soerjadi.

Ketika terjadi perpecahan tersebut, kindisi struktur berantakan, misalnya, disatu daerah, ada Ketua dan Bendahara DPD atau DPC PDI mendukung kongres, sementara Sekretarisnya justru menolak kongres. Atau sebaliknya. Kurang lebih begitu lah gambaran di kandang banteng pertengahan tahun 1996 itu. Akhirnya, hanya banteng-banteng sejati lah mau menjadi.pengurus PDI, atau mereka yang betul-betul tidak punya pilihan lain selain tetap pro Megawati.

Seiring perjalanan waktu, negeri ini mengalami perubahan politik yang begitu radikal. Tahun 1998, Presiden Soeharto dilengserkan setelah bergeraknya mahasiswa di semua kampus di tanah air. Reformasi melanda negeri kita yang mengantarkan BJ Habibie sebagai Presiden RI.

Habibie hebat. Diawal kepemimpinannya , dia benar-benar membuka kran demokrasi untuk menyongsong pelaksanaan pemilu 1999 yang dicanangkannya. Partai politik bermunculan hingga menjadi 48 sebagai peserta pemilu. PDI pro Megawati pun ikut di dalamnya setelah merubah namanya menjadi PDI Perjuangan.

Nah, sebagai peserta pemilu, PDI Perjuangan pun menyiapkan calon-calon anggota DPR RI dan DPRD untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota. Saat itu, persyaratan untuk menjadi calon tidak sulit, persyaratannya mudah saja, apalagi sistim pemilunya juga masih longgar. Rekrutmen seleksi menjadi calon anggota dewan tidak seketat hari ini.

Isi formulir saja, lengkapi apa yang diminta, lalu serahkan ke partai dan partai mengajukan ke komisi pemilihan umum. Setelah itu, ya kampanye ke masyarakat di daerah pemilihan masing-masing.

Rupanya, pemilu 1999 itu justru PDI Perjuangan pemenangnya, mampu mengalahkan partai lain, termasuk PDI yang dipimpin Soerjadi. Perolehan suaranya melimpah ruah , sehingga mampu mengantarkan calon-calonnya sebagai anggota DPR RI dan anggota DPRD. Semua DPRD di Indonesia terisi dengan anggota PDI Perjuangan, tidak ada yang kosong. Bahkan, karena melimpahnya suara itu , pimpinan DPRD dapat diisi dari PDI Perjuangan. Luar biasa kemenangan PDI Perjuangan pada pemilu 1999. PDI Soerjadi justru mengalami nasib buruk.

Semua sudah paham, kemenangan PDI Perjuangan itu karena faktor Megawati, yang dinilai sebagai simbol perjuangan melawan penguasa. Masyarakat marah karena Megawati di zolimi, disingkirkan dari jabatannya sebagai Ketua Umum DPP PDI yang sah, lewat kongres di Medan.

Maka, jadi lah Tasdi sebagai anggota DPRD Kabupaten Purbalingga. Dia sendiri mungkin tidak menyangka akan terpilih dan menjadi anggota DPRD di kotanya. Bisa saja saat itu dia hanya adu nasib saja, terpilih syukur, tidak terpilih ya gak bisa apa-apa dan balik lagi ke profesi semula, sopir truk.

Hal yang sama juga dialami oleh “Tasdi-Tasdi” lain di daerah lainnya. Mereka bersandal jepit dan berpakaian lusuh, Dulu mereka menjadi calon karena ada yang ajak atau karena mencoba mengadu nasib, mana tahu terpilih. Sebab, pada waktu itu, PDI Perjuangan memang memberi ruang yang lebar kepada masyarakat untuk menjadi calon, tanpa mempermasalahkan apakah sudah lama menjadi anggota partai atau hanya anggota dadakan. Tidak dipertanyakan, apakah ikut berjuang membela Megawati atau tidak. Karena saat itu yang penting bagaimana PDI Perjuangan bisa menjadi peserta pemilu. Sedang urusan kualitas SDM belum begitu mendapat perhatian. ***

Comments

Most Popular

To Top