Beritabuana.co

Metropolitan

Tak Ada Keadilan Hukum dalam Kasus Jennifer Dunn dan Sahabatnya, Tya

Noni T Purwaningsih/Istimewa

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada aktris Jennifer Dunn (Jedun) terkait kasus penyalahgunaan narkoba, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/5) lalu menjadi pertanyaan besar.

Noni T Purwaningsih, Kuasa Hukum dari Raditya Argoebie alias Tya, yang ditangkap karena mengkonsumsi sabu bersama Jedun menganggap ada kejanggalan dari tuntutan JPU. Sebab, JPU hanya menuntut Jedun delapan bulan penjara dipotong masa tahanan. Sementara Tya dituntu lima tahun penjara dipotong masa tahanan dan denda Rp 1 miliar subsidair enam bulan penjara.

Noni memaparkan, Tya ketika itu ditangkap di rumah kerabatnya, di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (4/1) lalu, akibat terbukti mengkonsumsi narkotika jenis sabu, bersama Jedun di kediaman Jedun, daerah Mampang, Jakarta Selatan.

Penangkapan Tya berdasarkan keterangan yang diberikan Jedun dan seorang bandar berinisial FS yang telah ditangkap lebih dahulu. Dari tangan Tya, Polisi menemukan sabu seberat 0,016 gram.

Tya diketahui baru pertama kalinya terjerat. Sedangkan Jedun, telah ketiga kalinya terjerat kasus yang sama.

Kejanggalan terjadi ketika keduanya dituntut dengan pasal yang sama, yaitu Pasal 114 ayat 1 Subsider Pasal 112 ayat 1 jo Pasal 132 ayat 1 dan Pasal 127 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2009, tentang Narkotika.

“Sekarang coba kita bandingkan tuntutan JPU (Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jedun, adalah delapan bulan potong masa tahanannya. Sementara itu Tya telah dituntut selama lima tahun bui dipotong masa tahanan, dan denda sebesar Rp 1 miliar, subsidair enam bulan penjara. Yang dipertanyakan dimana letak keadilan?,” ujar Noni, pada Jumat (8/6/2018).

Padahal, lanjut Noni, dari barang bukti yang ditemukan polisi dari tangan Jedun, 0,221 gram sabu. Lebih banyak dibandingkan barang bukti Tya yang hanya 0,016 gram.

“Jedun sudah tiga kali ditangkap, diproses dan dua kali divonis masuk penjara, dengan kasus yang sama. Lalu, untuk yang sekarang ini ialah ketiga kali dimana prosesnya saat ini baru saja sampai tuntutan oleh pihak JPU di PN Jakarta Selatan,” ungkapnya.

Noni pun menuntut keadilan dan penjelasan dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta terkait ketimpangan tuntutan di antara keduanya. Terutama terhadap JPU Tya yakni Yan Ervina.

“Apa sebab Tya ini adalah golongan keluarga tidak mampu sehingga Tya kini dituntut lima tahun penjara? Perlu diketahui, Tya itu ialah dari keluarga yang tak mampu yang dimana Ibu Tya pun hanyalah seorang janda tak berpenghasilan. Jadi, hanya Tya yang dapat menghidupi Ibunya, saya miris dengan hukum di negeri ini,” jelasnya.

Menurut Noni, dari semua rangkaian peristiwa yang mendera Tya saat ini, terpantau tidak ada saling koordinasi antara kedua jaksa di ranah meja hijau.

“Apakah antara kedua jaksa tidak berkordinasi terlebih dahulu satu sama lain. Karena kasus ini merupakan rangkaian peristiwa yang tak dapat dipisahkan. Kenapa saya pun berbicara seperti ini lantaran di dalam persidangan yang saat ini dilakukan di PN Jakarta Selatan, Tya ini adalah saksi dalam persidangan Jedun,” tandasnya. (Dar)

Comments

Most Popular

To Top