Beritabuana.co

Headline

Teror dan Separatis Bisa Diantisipasi Dengan Saling Jaga dan Menghormati Sesama

M. Solikin. (Dok Istimewsa)

Oleh M Solikin (Penanggungjawab beritabuana.co)

TINDAKAN teror bom bunuh diri dan separatis, yang terjadi akhir-akhir ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang yang bengis dan preman, keluarga biasa pun juga bisa terpengaruh dan nekat melakukan kejahatan teroris. Bom dan bahan peledak tanpa terditeksi tetangga dan aparat disimpan rapat dirumah mereka yang sebenarnya lingkungan padat penduduknya.

Seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Satu keluarga dengan tanpa rasa berdosa dan mengatasnamakan agama tertentu tega melakukan aksi bom bunuh diri terhadap penganut agama lainnya. Tidak tanggung-tanggung, dengan berpencar dan dalam waktu yang hampir bersamaan mereka (satu keluarga) mengguncang gereja di tiga lokasi di Surabaya, dengan bom bunuh diri.

Selang beberapa jam kemudian, terjadi ledakan di sebuah Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo masih di Surabaya, itu pun satu keluarga yang sebetulnya telah merencanakan untuk melakukan aksi bombunuh diri. Namun, bom tersebut keburu meledak dikediaman mereka. Ada lagi satu keluarga yang melakukan aksi sama di Markas Polisi Kota Besar (Mapoltabes) Surabaya.

Sontak saja, akibat aksi teror bom bunuh diri tersebut banyak korban tak berdosa berjatuhan. Hasil identifikasi Polda Jatim menyebutkan bahwa total jumlah korban bom di tiga gereja di Surabaya serta di rusunawa Wonocolo Sidoarjo dan Mapoltabes Jawa Timur, mencapai 28 orang harus merengang nyawa. Sementara korban luka-luka baik dari warga masyarakat maupun petugas kepolisian berjumlah 57 orang. Di antara korban luka ada juga anggota keluarga orang yang diduga menjadi pelaku pengeboman

Dua peristiwa meledaknya bom tersebut terjadi pada Minggu (13/5/2018). Bom di Surabaya berlangsung pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB sementara bom di rusunawa Wonocolo sekitar pukul 21.00 WIB malam. Sedang di Mapoltabes Surabaya, Jawa Timur, terjadi pada Senin (14/5/2018) sekitar pukul 09.30 WIB.

Untuk antisipasi dan mencegah tumbuhnya sel-sel teroris di masyarakat, maka seluruh elemen masyarakat bersama aparat keamanan, harus mengoptimalkan kewaspadaan lingkungan dengan gerakan silaturrahmi perangkat desa (RT, RW dan Lurah) ke warga secara rutin dan terpadu berintegrasi dengan aparat kepolisian dan TNI setempat, petugas puskesmas, di kemas dalam program pemeriksaan kesehatan keluarga( pemeriksaan kesehatan lingkungan dgn pengecekan lingkungan rumah, bayi dan ibu hamil, cek darah dll).

Selain itu, perlu menempatkan aparat kepolisian disetiap desa untuk tinggal dan hidup ditengah masyarakat dimana satu aparat membina 1 Desa. Pembentukan relawan pencegahan terorisme dan narkoba yang bertugas melakukan pendtaan dan penyuluhan ke masyarakat. Pemberian insentif bagi masyarakat yang melaporkan adanya teroris dan separatis di lingkunganya.

Semoga bermanfaat untuk bangsa dan negara ku tercinta. ***

Comments

Most Popular

To Top