Beritabuana.co

Headline

Staf Khusus Menhumham Minta DPR Segera Sahkan UU Terorisme

Stafsus Menkumham-M Nurdin.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat diharapkan segera merampungkan pembahasan revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Undang-Undang ini penting diselesaikan karena ancaman terorisme masih tetap ada dan bisa terjadi setiap saat waktu.

“Revisinya segera diselesaikan DPR, perkembangan terorisme belum surut seperti yang terjadi di Mako Brimob kemarin,” kata Staf khusus Menteri Hukum dan HAM, M Nurdin yang dihubungi beritabuana.co, Sabtu (12/5/2018).

DPR sepakat memperpanjang pembahasan revisi UU No15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dalam rapat paripurna ke-22 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2017-2018, di Selasa (10/4/2018) lalu.

Pembahasan Revisi UU Anti-Terorisme saat ini tinggal perdebatan mengenai definisi terorisme. Definisi terorisme itu perlu dirumuskan kembali lantaran adanya keberatan dari berbagai elemen masyarakat, khususnya organisasi kemasyarakatan Islam.

Selanjutnya M Nurdin menyatakan, pemberantasan tindak pidana terorisme tidak hanya tugas Polri dan TNI, tetapi tugas semua orang. Pemberantantasannya perlu koordinasi semua pihak supaya pencegahannya lebih mudah dilakukan.

“Dalam UU sebelumnya sudah ada, tapi karena perkembangan teroris di negara kita tetap ada, maka UU itu perlu direvisi lagi, termasuk bagaimana pencegahan dan penindakannya. “Mudah-mudahan dalam masa sudang nanti, DPR sudah menyelesaikan revisi UU Anti Terorisme,” kata bekas Kapolda Jawa Barat ini.

Nurdin menyatakan lagi, tidak mudah mengembalikan pelaku teroris ke jalan yang benar sesuai idiologi Pancasila. Karena mereka sudah ditanamkan tentang paham yang ekstrim dalam bernegara.

“Memang yang insyaf sudah ada, tetapi yang belum dan masih yakin dengan idiologinya juga masih ada,” kata M Nurdin.

Dia menambahkan jika masyarakat kita tidak pernah diajarkan aksi kekerasan dan kejam seperti yang dilakukan oleh pelaku teror.

“Kita di Indonesia kan tidak pernah diajari cara-cara yang kejam dan sadis,” katanya lagi.

Untuk itu menurut Nurdin, narapidana teroris diajari hidup menjadi warga negara yang ber Pancasila. Selama menjalani masa tahanan, pelaku teroris dibina menuju pemasyarakatan kembali. (Ndus)

Comments

Most Popular

To Top