Beritabuana.co

Headline

20 Tahun Reformasi, Apa Kabar Pak Harmoko ?

reformasi, harmoko dan soeharto

Andoes Simbolon

Oleh: Andoes Simbolon
NAMA bekas Ketua DPR/MPR RI, H. Harmoko lama tak terdengar. Dimana dia ya? Pada perjalanan reformasi, nama Harmoko benar-benar ditenggelamkan oleh tokoh dan politisi yang banyak bermunculan dalam kurun 20 tahun ini. Pada hal, Harmoko termasuk pemantik lengsernya Soeharto dari kursi Presiden RI. Waktu itu dia menjabat Ketua DPR/MPR bersama wakil-wakilnya, Abdul Ghofur (Golkar), Ismail Hasan Metareum (PPP), Fatimah Ahmad (PDI) dan Syarwan Hamid (ABRI).

Munggu pertama, kedua dan minggu ketiga bulan Mei 1998, suhu politik nasional sudah memanas. Dibeberapa tempat termasuk di Jakarta terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di tanah air turun ke jalan mengadakan aksi unjuk rasa menuntut reformasi dan mengganti presiden.

Gedung DPR/MPR pun dikepung mahasiswa dari Jabodetabek, mereka terang-terangan mendesak agar Presiden Soeharto segera mengundurkan diri. Tidak hanya mahasiswa, tokoh maupun aktifis politik dari berbagai latar belakang ikut bersama mahasiswa di Senayan untuk tujuan yang sama. Tuntutan supaya Soeharto mundur sudah tak terbendung.

Ditengah situasi politik yang sudah memanas itu, pimpinan DPR/MPR bergerak cepat mengambil langkah untuk meredam gejolak di masyarakat dan khususnya para mahasiswa yang bertahan di gedung DPR/MPR RI.

Disaat panas terik, 18 Mei 1998, di lantai 3 gedung Nusantara III, pimpinan DPR/MPR berada dalam sebuah meja. Didalam ruangan itu telah berkumpul mahasiswa dan tokoh-tokoh politik tadi, termasuk wartawan dari berbagai media, baik nasional maupun internasional.

Ruangan yang penuh sesak itu agak tegang menunggu apa yang mau disampaikan Harmoko. “Dalam menanggapi situasi yang berkembang, pimpinan Dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri.”

Belum selesai Harmoko berbicara, kontan seisi ruangan bersorak gembira mendengar himbauan tersebut. Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh ribuan mahasiswa yang berada di dalam gedung DPR.

Tuntutan mahasiswa didengar pimpinan DPR/MPR seperti yang disampaikan Harmoko ke Presiden Soeharto. Maka, 3 hari setelah itu, persisnya tanggal 21 Mei pagi, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, setelah berkuasa selama 32 tahun.

Disini lah betapa kuatnya Harmoko karena berani meminta Soeharto mengundurkan diri. Sebab, himbauannya itu lah yang semakin melempangkan tuntutan mahasiswa yang telah berhari-hari menduduki gedung DPR/MPR. Tapi, dimana Pak Harmoko ya? ***

Comments

Most Popular

To Top