Beritabuana.co

Headline

Amin Santono yang Dicokok KPK Saat Reses

Oleh: Andoes Simbolon

Andoes Simbolon

OPERASI Tangkap Tangan(OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) Jumat (4/5/2018) malam di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, bertepatan dengan masa reses DPR RI. Biasanya, setiap reses anggota DPR berada di daerah melakukan kunjungan kerja (kunker) komisi dan bertemu dengan konstituen di daerah pemilihan masing-masing.

Namun, anggota Komisi XI dari Fraksi Demokrat DPR, Amin Santono justru berada di Jakarta. Dia dengan pengusaha dan pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu), malam itu sedang kongkow di sebuah restauran di Halim Perdanakusuma. Rupanya mereka sudah janji untuk membereskan sebuah urusan.

Sayangnya, urusan tersebut rupanya  berbahaya dan berujung penangkapan. Setelah menyelesaikan urusannya, Amin Santono bergegas ke parkiran hendak pergi. Belum sempat menghidupkan mobil, datang petugas KPK menghapiri Amin dan langsung mengamankannya.

KPK memang sudah mengintai pertemuan di restauran tempat mereka bertemu. Saat itu juga mobil Amin digeledah dan penyidik menemukan uang sebesar Rp 400 juta yang dibungkus dalam 2 amplop warna coklat. Uang itu sendiri sebelumnya berada di dalam mobil Ahmad, seorang swasta atau kontraktor.

Jadi uang itu dipindahkan anak buah mereka saat Amin sedang kongkow di dalam restauran. KPK menduga uang yang diterima Amin Santono sebagai fee yang dijanjikan terkait usulan dana pembangunan keuangan daerah pada R APBNP tahun anggaran 2018.

Dia pun tak bisa mengelak dan malam itu harus dibawa ke gedung KPK untuk diperiksa. Setelah dilakukan pemeriksaan dan ada bukti permulaan dugaan korupsi, komisi anti rasuah menetapkan Amin dan pihak swasta serta pejabat Kemenkeu sebagai tersangka dan kemudian menahan mereka.

Kasus dugaan korupsi ini menambah daftar anggota DPR tersangkut korupsi. Entah berapa orang politisi Senayan terjerat korupsi yang mengantarkan mereka ke dalam sel sebagai narapidana korupsi.

Apakah Amin tidak mengetahui hal tersebut? Ah, rasanya tidak mungkin. Apakah juga dia tidak tahu kehebatan KPK? Rasanya juga tidak mungkin.

Jika dia tidak ingin menjadi pesakitan, mestinya Amin belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Sudah begitu banyak kasus korupsi yang berhasil dibongkar KPK dan menyeret pelakunya  ke meja hijau dan kemudian divonis hakim Pengadilan Tipikor. Modus korupsi yang dibongkar itu pun tidak jauh berbeda dengan modus yang dilakukan Amin.

Proyek APBN menjadikan  bancakan untuk kepentingan pribadi. Selama ini juga pemberitaan kasus korupsi di KPK begitu gencar pemberitaannya di berbagai media massa, sehingga masyarakat mengetahui perkembangan penanganan kasusnya. Tampang pelaku korupsi dengan rompi orange selalu dimuat di media massa termasuk di layar televisi.

Sudah tidak rahasia lagi betapa hebatnya KPK membongkar perkara dugaan korupsi. Orang-orang yang telah dicurigai sudah diintai pergerakannya termasuk komunikasi mereka ikut diintai lewat penyadapan.

Mestinya fakta-fakta tersebut diketahui semua politisi atau penyelenggara negara lainnya, termasuk Amin Santono untuk menghindari perbuatan tidak terpuji. Apalagi selama ini, nyaris tidak ada yang lolos dari jerat KPK, dan semua terbukti di pengadilan atas perbuatan korupsi yang mereka perbuat.

Amin Santono melupakan semua itu. Demi mendapat uang yang dilarang oleh UU, dia berani menerima uang suap dari pengusaha dengan janji memperjuangkan proyek yang mereka maksud gol dalam APBN P 2018. Jangankan di Jakarta, di daerah pun KPK bisa mengintai dan menangkap orang-orang yang telah dicurigai. Karena kenekatannya itu, kini Amin berurusan dengan KPK, pada hal semestinya dia di daerah dalam rangka kunker dan bertemu dengan konstituennya. ***

Comments

Most Popular

To Top