Beritabuana.co

Opini

Dilema Transportasi Berbasis Online

ONLINE Motor atau Mobil kembali menjadi sorotan. Tentu saja, itu dipicu oleh kecemasan para penggunanya, mengingat sudah terjadi tindak kriminal di jenis angkutan baru di era modern itu. Yang pada dasarnya untuk memudahkan para pengguna transportasi di negeri ini, utamanya di kota besar.

Pada awal mula jenis transportasi ini baru ada sambutan masyarakat sungguh membanggakan. Itu menjadi ‘jalan lain’ dari kebekuan naik kendaraan umum yang banyak risikonya dan melelahkan. Ini masih ditambah perlakuan para pengendaranya yang ugal-ugalan, bahkan cenderung memakan korban jiwa.

Dari segi ongkos juga terbilang murah ketimbang ojek konvensional untuk motor dan taksi berargo yang bisa ‘berkuda’. Meski ada persyaratan khusus untuk ini, HPnya harus ‘canggih’ maksudnya bisa masuk untuk memanggil jaringan online mereka.

Belum lagi, faktor kenyamanan. Dengan ojek motor atau taksi mobil kita bisa lebih mudah ‘berkomunikasi’. Mereka tahu cara terbaik mengendarai motor atau mobilnya. Bahwa pengguna adalah Raja dan mereka adalah Pelayan benar-benar dipegang teguh. Meski risih juga kita setelah tahu bahwa si Sopir adalah bos warung tegal yang hanya iseng-iseng meng-online-kan mobilnya. “Biar nggak jenuh di warung terus Pak!” katanya.

Padahal, yang naik banyak yang level kehidupannya — dari segi materi — jauh di bawah si sopir. Kenyataan yang memang tidak dapat dipungkiri.

Tahun berjalan, kendaraan seperti ‘diobral’ para pemegang mereknya, maka yang terjadi adalah melimpahnya para pemilik motor/mobil atau yang mencoba punya motor/mobil dengan beralih menjadi pengendara online. Apalagi, hasilnya memadai. Bisa untuk bayar kredit dan hidup sehari-hari. Alhamdulilah.

Itu dulu. Kini, tidak lagi. Sejak beberapa tahun ini aku sering naik motor/mobil online itu dengan pandangan beragam tentang mereka. Ada yang sadar tentang jatidirinya bahwa mereka harus mengesankan para pemakai jasanya. Banyak yang merasa kita hanya memakai jasanya mengantarkan dengan selebihnya pada fakta bahwa ‘lu kan hanya menumpang dan bisa bayar, mobil aku punya, kebetulan aja handphone gue yang nyambung dengan panggilanmu. jadi, tenang-tenang saja, jangan banyak cingcong’.

Wadaw. Ngebutlah mereka, padahal kita bawa keluarga. Ngomong seenaknya lah dengan kalimat yang jika diresapi betul-betul bermaksud merendahkan kita. Sambil main-main hp lah dalam kondisi macet. Silakan tambahkan!

Tentu, sebagaimana layaknya hidup dan kehidupan. Banyak yang positif dari mereka. Kita diajak ngobrol bak teman. Ngajak diskusi layaknya terhadap kawan baru. Menceritakan pengetahuan dan pengalaman yang menjadi bahan baru bagi kita.

Banyak teman yang mengaku sangat terbantu dengan keberadaan motor/mobil ojek ini. Waktunya lebih cepat, tidak harus terhina ojek konvensional yang pengemudinya sering ‘bocor’ omongannya, secara intelektual pasti lebih baik dari orang kebanyakan.

Saat aku bekerja di Tangerang. Turun dari commuter line di stasiun Tangerang aku biasanya memesan Ojok (Ojek Online). Dan, banyak aku naiki adalah para mahasiswa yang secara paruh waktu mencari uang tambahan, tidak sekadar dari orangtuanya.

Namun, tak jarang ada penyalahgunaan dari mereka. Didaftarkan nama anaknya yang ‘narik’ banyaknya. Mobil yang tertera di hp kita nomornya sekian, nyatanya berbeda mobil; untung, nomor hp mereka sama, sehingga kami tetap terhubung.

Para perusahaan kendaraan online setahu aku sudah memiliki perangkat untuk armadanya menjadi lebih baik. Misalnya dengan tanda bintang yang dimintakan kepada para penumpang usai mereka mengantarkan sampai di tempat. Ini akan menjadi bonus untuk kerja bagi mereka. Namun, ya apa saja bisa terjadi untuk kita pada gilirannya lebih hati-hati. Waspada. Meski kita sudah tahu naik ojek motor/mobil dari perusahaan online terpercaya.

Para perusahaan kendaraan online memang harus lebih ketat menjaga naik baiknya dengan pembinaan awaknya dari berbagai sisi. Hingga pada gilirannya mereka tetap terpercaya seperti sebelumnya. Zaman sudah modern sudah pada tempatnya jika teknologi dipergunakan dengan sebaik mungkin. Masa’ sih kita kembali ke zaman batu!

* Ayit Suyitno, Redaktur Eksekutif Beritabuana.co

Comments

Most Popular

To Top