Beritabuana.co

Opini

Transformasi Fahri

Oleh: Erizal*

SAYA ikut ke Solo #NgobiBarengFahri, 15 April, lalu. Ini kota ke-14. Tak terasa, sudah 14 saja. Fahri bertransformasi sangat cepat. Dengan model acara ini, di kalangan tokoh publik, Fahri bisa dibilang, pencetus. Dari kafe ke kafe, dia bergerak membahas politik yang rumit, jadi simpel.

Sebetulnya tradisi membahas peristiwa hari-hari, termasuk politik, di kafe, kedai, warung, ialah tradisi yang cukup lama di sebagian masyarakat Indonesia. Di Sumbar, misalnya, tradisi ini disebut “ota lapau”. Peristiwa hari-hari dibahas di lapau–pagi, siang, hingga malam–tanpa beban.

Maka, dalam tradisi ini akan mudah muncul orang-orang yang terbiasa berdialektika, adu gagasan, beragumentasi, bahkan melawak. Sumbar, dalam sejarahnya, banyak melahirkan orang-orang seperti itu. Tapi, sayang, tradisi itu mulai ditinggalkan. Digantikan tradisi sosialisasi searah.

Fahri berusaha menghidupkan lagi. Berhasil atau tidak, itu soal lain. Usaha itu saja, sudah cukup. Tak terbayang, anak-anak milenial bertanya soal tugas DPR, apa itu APBN, utang negara? Paling sering ditanya, kenapa Pak Fahri ingin membubarkan KPK? Fahri selalu menjawab runtut.

Senang juga melihat anak-anak milenial itu melongo, tersihir, sesekali terpingkal-pingkal juga tertawa mendengarkan lawakan Fahri. Ternyata Pak Fahri itu orangnya humoris juga, ya. Ini saya dengar sendiri. Gap politik yang sebetulnya dekat, harus terus diperdekat, pada tiap generasi.

Bagaimana bila usaha Fahri ini hingga 100 atau 200 kota? Ditambah kehadiran tokoh lain, seperti Fadli Zon misalnya? F2 (Fahri-Fadli) kata orang. Acara ini akan berubah menjadi sekolah tersendiri bagi generasi baru. Maka akan muncul gen politik baru di Indonesia. Generasi milenial yang dalam, kritis, tapi asyik. Di Solo, saya menangkap itu. F2 menjadi guru politik, bagi mereka.

Politik hujan-hujanan pakai motor, boncengan pula, pakai moge, masuk gorong-gorongan, pakai kaos oblong saat acara resmi tapi kaos oblong orang dimarahin. Mereka akan asyik tertawa, sambil diambil pelajaran bahwa itu naif. Memang, tak mudah membangun jalan pikiran daripada jalan raya seperti sering juga dikatakan Fahri, tapi tetap saja harus dimulai dan tak boleh berhenti.

Entah kenapa, pasca dipecat awal tahun 2016 lalu, Fahri jadi lebih luas dan punya banyak ide? Mulai dari mendirikan Keluarga Alumni KAMMI, bergerak dari provinsi ke provinsi, Pawai Kebangsaan, diawali dari Sabang, titik nol Indonesia, menjahit Persatuan Indonesia, hingga nanti ke Papua. Kini, #NgopiBarengFahri dari kafe ke kafe. Semuanya disambut dengan amat antusias.

Tak ayal, Fahri menjadi idola baru. Kekontroversiannya mulai jauh berkurang. Orang jadi mengerti dasar-dasar pemikiran dan sikap-sikapnya. Segmennya (baju) yang kecil jadi membesar. Dia tak hanya diundang dalam talk show politik, tapi juga nonpolitik, yang memiliki rating tinggi.

Ini juga di luar dugaan. Biasanya yang dipecat PKS itu, langsung nyungsep. Menggelepar sedikit, langsung mati. Fahri tidak. Melawan, bertahan, membalikkan keadaan, terus memberikan pengaruh, dan yang paling penting tetap berada di PKS. Yang terakhir ini, menarik. Karena salah satu alasan pemecatan ialah ambisius, gila jabatan, lupa daratan, kacang lupa kulit, entah apa lagi?

Fahri ingin mengatakan anda keliru! Dan memang keliru, sebab sejak awal tak sedikitpun, itu membuatnya silau. Tak banyak yang tahu, betapa patah hatinya Fahri. Tapi, benar kata Rocky Gerung, dari hati yang patah, bisa tumbuh hati yang jauh lebih kuat. Mungkin, itulah yang terjadi.

Fahri sering diledek Fadli, soal atasan. “Kalau saya, “cerita Fadli, atasannya pak Prabowo. Kalau pak Agus, atasannya pak SBY. Kalau pak Taufik, atasannya pak Zul. Nah, kalau pak Fahri ini, atasannya langsung Allah SWT.” Biasanya orang mendengar ini langsung tertawa, gerrrrr……

Tapi, di Solo, Fahri tampak serius menjawab ledekkan itu. “Sebetulnya Fad, “jawab Fahri, itulah berpolitik yang betul. Kita tak boleh takut sama atasan, kita harus takut sama Allah semata. Selama kita benar dan sesuai sama Allah, pemimpin salah harus dilawan. Jangan manut-manggut saja.” Saya melihat Fadli terdiam dengan jawab Fahri ini. Dan para hadirin terlihat membenarkan.

Transformasi Fahri, belum akan berakhir. Perjalanan masih panjang. Umur juga belum 50 tahun. Sedang naik daun, tapi memilih tetap berada di PKS, itu sebetulnya merugikan. Tapi, pada saat yang sama, itu juga kebersahajaan. Selintas yang rugi itu Fahri, tapi sebetulnya ialah PKS itu sendiri saat ini, tapi tidak di masa depan.

* Penulis adalah Ketua Alumni KAMMI Sumatera Barat

Comments

Most Popular

To Top