Beritabuana.co

Nasional

Jampidsus Kaji Sprindik Baru Kasus Pembobolan Bank Mandiri Cabang Surakarta Rp472 Miliar

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Adi Toegarisman menegaskan, pihaknya masih mengkaji kemungkinan menerbitkan kembali Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru, terkait putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang menghukum rendah dua terdakwa kasus pembobol bank Mandiri Cabang Surakarta sebesar Rp472 miliar.

“Tentu, putusan itu akan kita pelajari lagi, dan nanti baru kita putuskan untuk menentukan sikap (menerbitkan Sprindik baru atau tidak – red), ” kata Adi menanggapi hal tersebut, Senin (16/4), di Jakarta.

Sebelumnya, pada Kamis (12/4) lalu, majelis hakim Pengadilan Tipikor yang diketuai Mas’ud telah menjatuhkan vonis kedua terdakwa kasus pembobolan bank Mandiri Surakarta, yakni Erika W. Liong dan Mulyadi Supardi (Dirut dan Manajer PT Central Steel Indonesia-CSI). Masing-masing dihukum empat tahun penjara dan lima tahun enam bulan penjara. Selain itu mereka juga diwajibkan untuk membayar uang denda sebesar Rp200 juta subsidier tiga bulan penjara.

Meski demikian, kedua terdakwa tidak dikenakan sanksi membayar uang pengganti. Ironisnya, sanksi itu diwajibkan kepada koorporasi, dalam hal ini PT CSI agar membayar uang pengganti Rp201 miliar. Bahkan majelis hakim memberikan batas waktu sebulan setelah perkara berkekuatan hukum tetap untuk membayarnya. Jika tidak mampu melunasi uang pengganti, maka seluruh aset PT CSI akan dilelang guna membayar uang pengganti tersebut.

Padahal Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andu Indra semula menuntut terdakwa Erika enam tahun dan Mulyadi selama tujuh tahun enam bulan. Masing-masing dituntut denda sebesar Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan penjara. Serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 201 miliar.

Awalnya pada tahun 2011, kedua terdakwa melalui PT CSI yang bergerak di bidang peleburan besi bekas, besi beton dan besi bulir untuk bahan bangunan, pada 2005 mengajukan fasilitas kredit kepada Bank Mandiri (Persero). Ternyata, dalam permohonan kredit sebesar Rp 472 milyar lebih dilakukan dengan data dan laporan keuangan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Menurut Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, berdasarkan surat dakwaan No. Reg. Perkara: PDS/29/Pid.Sus/TPK/11/2017 oleh Kejari Jakarta Pusat, uang kredit dialirkan kepada para pemegang saham. Masing-masing, Weng Jian Ping Rp15,5 miliar, Tan Oe Ciaw Rp15 miliar dan Rp16,5 miliar, Goeij Siauw Hung Rp25 miliar dan Nadia Kristanto Rp10 miliar.

Namun sejauh ini, Adi Toegarisman yang juga mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) belum bisa memastikan apakah akan menerbitkan Sprindik (Surat Perintah Penyidikan) baru atas perkembangan kasus tersebut.

“Kan perkaranya baru diputus. Kita harus pelajari. Jika ada fakta hukum baru, kita akan sikapi lagi,” kata Adi seraya mengatakan, dalam hukum tidak ada istilah kemungkinan. Menurutnya, semua harus didasarkan fakta-fakta hukum. “Kita bekerja itu secara profesional, bukan berdasarkan asumsi,” tegasnya. oisa

Comments

Most Popular

To Top