Beritabuana.co

Headline

Buntut 60 Tewas, AS Bersama Prancis dan Inggris akan Serang Lokasi Senjata Kimia Suriah

Presiden as donald trump/google

BERITABUANA.CO, WASHINGTON – Amerikat Serikata (AS), Prancis dan Inggris melakukan penyerangan dengan target fasilitas sejata kimia Presiden Suriah Bashar al-Ashad. Penyerangan itu dilakukan sebagai tanggapan atas terjadinya serangan gas beracun yang menewaskan 60 orang pada pekan lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (14/4/2018), menyatakan, operasi gabungan dengan Prancis dan Inggris sedang bergerak menuju sasaran. Mereka siap melanjutkan tindakan itu sampai Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia.

“Saya baru saja memerintahkan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat untuk melakukan serangan secara tepat terhadap target-target yang berhubungan dengan kemampuan senjata kimia diktator Suriah Bashar al-Assad,” kata Trump dalam pidato yang disiarkan televisi dari Gedung Putih.

“Ini bukan aksi manusia. Ini adalah aksi kejahatan yang dilakukan oleh monster,” kata Trump.

Pernyataannya itu mengacu pernyataannya Assad dan peranan presiden Suriah itu dalam serangan senjata kimia.

Ketika Trump berbicara, sejumlah ledakan terdengar di Damaskus. “Tujuan aksi kita malam ini adalah untuk membuat pencegahan kuat terhadap produksi, penyebaran dan penggunaan senjata nuklir,” kata Trump.

Atas hal itu, militer Rusia, yang menjadi pembela Suriah menyatakan, pihaknya belum menemukan bukti tentang adanya serangan senjata kimia di Douma, Suriah.

“Menurut hasil survei saksi, mempelajari sampel, dan menyelidiki lokasi (kejadian) yang dilakukan oleh ahli Rusia serta tenaga medis di kota Douma, di mana senjata kimia diduga digunakan, penggunaan zat kimia tidak tampak,” ungkap Kepala Pusat Perdamaian dan Rekonsiliasi Rusia di Suriah Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko.

Kendati belum menemukan bukti, Rusia, kata Yevtushenko, tak akan menghalang-halangi upaya penyelidikan yang dilakukan Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) di Douma. Sebaliknya, Rusia akan melindungi tim penyelidik OPCW karena mereka yang akan membuktikan apakah senjata kimia benar-benar digunakan di Douma.

Kendati demikian, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Heather Nauert telah mengatakan negaranya memiliki bukti bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan gas beracun di Douma. “Suriah bertanggung jawab. Kami semua sepakat,” ujarnya.

Namun sama seperti Rusia, AS, kata Nauert akan menunggu hasil penyelidikan OPCW terlebih dulu. Namun ia menegaskan hasil penyelidikan OPCW hanya untuk merumuskan fakta dan temuan, bukan siapa pihak yang bertanggung jawab.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia, dalam sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Jumat kemarin, menuduh AS mengadopsi kebijakan untuk melancarkan skenario militer terhadap Suriah. Ia menilai retorika AS terkait Suriah tak dapat ditoleransi dan memiliki dampak besar bagi keamanan global.

Pekan lalu, serangan gas beracun terjadi di Douma, Suriah. Serangan yang diduga menggunakan senjata kimia itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 70 orang. Pemerintah Suriah dituduh bertanggung jawab atas terjadinya serangan tersebut. Namun tuduhan segera dibantah, termasuk oleh sekutunya, Rusia.(Ram)

Comments

Most Popular

To Top