Beritabuana.co

Headline

Arteria dan Kondisi Budaya Politik Kita

Andoes Simbolon

Oleh: Andoes Simbolon

SEBAGAI politisi muda , Arteria Dahlan memang energik. Jika bicara menyampaikan pendapat, Arteria selalu bersemangat, meledak-ledak dan berapi-api. Itu lah karakternya. Namun, apa pun pendapatnya, selalu didukung dengan data, karena dihadapannya selalu tersedia bahan yang sudah disiapkan.

Selain energik, Arteria.juga tergolong politisi yang bernyali, kalau bicara tidak tedeng aling-aling. Sejak duduk di Komisi II dan kemudian di Komisi III DPR, Arteria kerap bicara keras seperti tidak ada yang ditakuti. Termasuk dengan Mendagri Tjahyo Kumolo. Arteria tidak sungkan bicara pedas dalam rapat, meski Tjahyo separtai dengan dia, bahkan pernah menjabat Sekjen DPP PDI Perjuangan.

Iya, itu lah sosok Arteria Dahlan, yang  saat ini sedang ramai diperbincangkan publik gara-gara ucapannya yang sangat pedas saat rapat kerja Komisi III dengan Jaksa Agung M Prasetiyo Raba lalu. Saat itu dia menyinggung maraknya penipuan oleh penyelenggara perjalanan umrah. Sudah begitu banyak masyarakat yang menjadi korban akibat penipuan itu. Dia pun meminta Kejaksaan mengusut penipuan tersebut. Mungkin dia kecewa berat melihat praktik tipu-tipu oleh  penyelenggara perjalanan umrah itu. Lucunya, Arteria mengaitkannya dengan Kementerian Agama, dan keluar lah kata bangsat tadi. Nah lho ! Tentu saja angggota Komisi III yang ada dalam rapat tersentak mendengar makian Arteria. Masyarakat juga ikut tersentak mendengarnya.

DPR memang perlu diisi oleh anggota yang kritis seperti sosok Arteria Dahlan. Apa pun, kinerja pemerintah harus diawasi sebaiknya-baiknya sehingga tidak ada penyimpangan, penyalahgunaan kekuasaan dari apa dan oleh siapa pun. Salah satu tugas atau fungsi dari DPR memang pengawasan dan menyuarakan aspirasi masyarakat (parle).

Dalam konteks ini, sosok politisi seperti Arteria patut kita apresiasi, karena memang sejatinya anggota DPR harus krtitis dan cerdas  dalam menjalankan tugasnya. Dia tidak perduli apakah dirinya berasal dari partai pendukung pemerintah atau tidak. Mitra kerja Arteria, dan koleganya, baik ketika di Komisi II dan Komisi III suka tercengang  dan geleng-geleng kepala, karena Arteria berbicara tidak asal bunyi alias asbun. Tetapi selalu argumentatif , di dukung data dan fakta, bahkan titik koma peraturan perundang-undangan yang dikutipnya dihafal luar kepala. Bicaranya pun sistematis,.runut dari A sampai Z. Tidak banyak anggota Dewan seperti Arteria.

Hal ini bisa dimaklumi, karena latar belakangnya  adalah seorang pengacara, Arteria juga menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum.

Sayangnya, dalam kehidupan politik dan demokrasi di Indonesia ternyata kekritisan dan keberanian seorang politisi tidak cukup. Adat istiadat maupun sopan santun serta budaya ketimuran dalam menjalankan tugasnya harus dijaga. Anggota DPR harus.pintar-pintar memilih kalimat-kalimat yang mau disampaikan, jangan sampai ada yang tersinggung. Kita ini adalah  sebuah bangsa yang heterogen, beraneka ragam budaya dan agama.

Akibat makiannya, kini Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin marah, jajaran kementerian juga  tidak terima di maki apalagi ditambah kata bangsat. Masyarakat juga ikut marah karena Arteria dianggap bukan seorang politikus yang tahu sopan santun dan tidak beretika. ***

Comments

Most Popular

To Top