Beritabuana.co

Opini

Indonesia Butuhkan Ekonom

Anggota dewan redaksi beritabuana.co, dadang sugandi

BANYAK lembaga survei yang sudah memasangkan nama-nama calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), berdasarkan hasil surveinya yang belum tentu kebenarannya. Karena, disamping jarak antara survei dengan Pilpres yang masih akan dilakukan tahun 2019 masih sangat jauh, sangat mungkin juga untuk membangkitkan semangat tokoh yang dijagokan.

Lembaga survei A, B, C dan lainnya, misalnya. Sampai sekarang ini masih mendudukan Presiden Jokowi masih di atas calon lawannya, Prabowo Subianto, yang sampai saat ini belum mendeklarasikan untuk maju sebagai capres untuk periode 2019 – 2024.

Begitu pula untuk pasangan cawapresnya Jokowi. Disebutkan dalam hasil surveinya, si ini sangat cocok, dan si itu juga mumpuni. Bahkan ada juga yang nyebut, jika si sana bagus bila pada pilres dimainkan isu agama, dan si sini mampu tangkal bila nantinya dimainkan isu korupsi.

Lembaga survei itu nyaris lupa. Bahwa masalah ekonomi di negara Indonesia ini sangat krusial, terlebih masalah hukumnya sudah banyak yang menduga sudah dikangkangi oleh politik. Akibatnya hukum tak mampu melawan berbagai pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja oleh oknum-oknum politisi.

Hukum pun dinilai banyak kalangan masih tebang pilih. Semuanya dilakukan, dikhawatiran publik, berbuat untuk kepentingan politik.

Kembali ke masalah ekonomi yang sangat krusial saat ini di Indonesia para lembaga survei melupakannya. Hampir semua mengarahkan kepada isu politik.

Hal itu dapat dilihat dari nama-nama yang sudah muncul. Di antaranya, Jokowi, Prabowo, Gatot Nurmantyo (sudah dijagokan sebagai capres). Muhaimin Iskandar, AHY, Anies Baswedan, dan lainnya (sudah dijagokan sebagai cawapres).

Nah, nama-nama itu semua lebih dekat sebagai figur-figur politisi. Tidak ada sama sekali yang dimunculkan sebagai orang yang paham ekonomi atau ekonom. Bila pun ada baru satu orang yang namanya muncul, yakni Sri Mulyani (saat ini sebagai Menkeu).

Padahal gambaran ekonomi Indonesia masih diperdebatkan sangat tidak baik. Misal, baru-baru ini disebutkan oleh Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid. Hidayat mengutip data dari Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (INDEF) pada 2018, bahwa saat ini utang pemerintah sekitar 4.700 triliun. Sementara itu, utang Indonesia yang merupakan gabungan dari utang pemerintah dan swasta tercatat telah mencapai 7.000 triliun. Tingginya jumlah utang Indonesia itu, belum memberikan keuntungan pada kesejahteraan masyarakat.

Karena itu sangatlah lebih arif bila lembaga survei mulai mengarahkan ‘panah’nya kepada para ekonom. Baik itu sebagai capres atau cawapres.

Sebut saja nama Rizal Ramli atau biasa ditulis media massa dengan singkat sebagai RR. Sosok RR ini, selain sebagai ekonom handal, berpengalaman dalam pemerintahan, karena pernah menjabat Menko di era Presiden Gua Dur, dan juga Jokowi. Sosoknya juga dikenal ‘bersih’. Tidak pernah terdengar atau terpublikasi terlibat kasus korupsi yang sangat memalukan di Indonesia ini.

Atau siapa lainnya, agar penulis tak dianggap menjagokan. Karena pada intinya, saat ini dan ke depannya, Indonesia sangat membutuhkan ekonom-ekonom handal yang memiliki jiwa kenegarawanan.

Ditangan para punggawa ekonom inilah nantinya negara tercinta ini akan stambil pada kesetaraan pendapatan, dan kesejahteraan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentunya dengan dilapis, politik yang sejuk, dan hukum yang tidak tebang pilih.

*Dadang Sugandi*  (Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)

Comments

Most Popular

To Top