Beritabuana.co

Legislatif

Tak Ada Persaingan Antara Pria dan Wanita Dalam Mensejahterahkan Masyarakat

Ketua BKSAP DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf. (Dok. Pemberitaan DPR)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf menekankan pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan untuk mencapai goal nomor lima dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Menurutnya, perempuan perlu mendapatkan kesempatan dan ruang yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik.

“Saya mengimbau kepada masyarakat, bahwa tidak ada persaingan antara laki-laki dan perempuan tetapi masing-masing bisa berperan untuk kesejahteraan masyarakat,” ucap Nurhayati dalam sambutannya pada acara perayaan International Women’s Day 2018 di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, Rabu (14/3).

Hadir dalam acara yang dibuka Ketua DPR RI Bambang Soesatyo itu, antara lain Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menjadi Keynote Speaker, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise, serta para anggota DPR RI.

Selain itu, hadir pula para Duta Besar Negara Sahabat, antara lain Mexico, Canada, Bangladesh, Spanyol, Jordan, Panama, Serbia, Ceko, Yaman, Suriname, Pakistan, Kuwait, Brazil, Hungaria, Norwegia, Jepang, Portugal, Iran, Bulgaria, Colombia, Bosnia, Palestina, Irak, Myanmar, Rusia.

Nurhayati menekankan kesetaraan gender sangat penting karena separuh potensi dunia ada di perempuan. Mengingat, 50 persen populasi dunia adalah perempuan.

“Tidak saja karena itu, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama melangsungkan kebaikan dan kebajikan,” paparnya lagi.

Politisi perempuan dari Demokrat itu menambahkan, kesetaraan gender bukan hanya isu yang dimiliki kaum perempuan, tetapi juga kaum lelaki. Ia menilai, dukungan kaum pria sangat penting untuk terus meningkatkan peran perempuan, yaitu bagaimana lelaki bisa memberikan ruang serta mengangkat hak perempuan.

“Kita masih menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar korban konflik kekerasan, perdagangan manusia dan diskriminasi gender adalah perempuan,” sambungnya.

Selain itu, Nurhayati melanjutkan, perempuan lebih cenderung memilih penyelesaian damai dalam menyelesaikan suatu konflik. Tak hanya itu, akses yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam proses pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk demokrasi. Namun, faktanya representasi global perempuan dalam politik masih kurang dari 20%.

Menyadari hal itu, DPRt RI sendiri telah memberikan penekanan kuat pada poin SDGs. Salah satunya dengan memperkenalkan sistem yang mewajibkan partai politik memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calon anggota legislatif. Karena itu, partisipasi perempuan yang setara dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan perlu dipromosikan di semua tingkat.

“Kami perempuan Indonesia masih membutuhkan dukungan, dari para pemangku kepentingan juga khususnya. Tidak saja di dalam legislatif tetapi eksekutif dan yudikatif, tapi di semua lini kehidupan bermasyarakat,” Nurhayati menandaskan.

Memeriahkan perayaan International Women’s Day kali ini, DPR memberikan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo yang telah menempatkan kaum perempuan terbanyak dalam kabinet kerjanya. DPR juga memberikan penghargaan kepada Sri Mulyani sebagai wanita paling berpengaruh di Republik Indonesia.

Kemudian, kepada DPRD Provinsi Riau karena memiliki jumlah anggota DPRD perempuan terbesar secara nasional. Sedangkan, Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Parantu dan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti diberikan penghargaan atas pencapaian mereka sebagai Bupati Perempuan yang terpilih selama dua periode berturut-turut. (Ndus)

Comments

Most Popular

To Top