Beritabuana.co

Legislatif

Kapolri Dihujani Sejumlah Pertanyaan Oleh Anggota Komisi III DPR

Anggota Komisi III DPR dari F-PKS, Aboe Bakar Al Habsyi.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Rapat kerja antara Komisi III DPR dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian kali ini, banyak isu dan aspek yang dibahas. Mulai dari tindak lanjut hasil rapat sebelumnya, sinergitas kelembagaan, hingga isu aktual yang sedang menjadi perhatian publik, menjadi bahan pertanyaan oleh komisi hukum DPR RI.

Hal ini disampaikan anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe bakar Alhabsyi kepada wartawan disela-sela Raker Komisi III DPR dengan Kapolri beserta jajarannya di Gedung DPR RI, Rabu (14/3).

Habib Aboe bakar mengatakan, untuk raker dengan Polri hari ini ada beberapa isu yang menjadi perhatian publik terkait dengan tupoksi (tugas pokok komisi).

“Mulai dari persoalan keamanan, kemarin sempat disampaikan bahwa berita penyerangan para ustadz adalah hoax, yang memproduksi hoax itu adalah The Family of MCA,” ungkapnya.

Bahkan, tambah Habib Aboe Bakar, semua pihak sudah mengetahui jika MCA sudah ditangkap, namun kenapa masih ada saja berita penyerangan ustaz.

“Misalkan saja kemarin lusa ada berita penyerangan perempuan yang disebut-sebut ‘gila’ terhadap Ustadz Abdul Rahman di Masjid Darul Muttaqin, Sawangan, Depok,” paparnya.

Selain itu, lanjut Ketua Kelompok Komisi (Poksi) III F-PKS DPR itu, ada juga serangan terhadap Ustadz Suryadinsyah, Warga Desa Amaliah, Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara.

“Ini kan perlu diklarifikasi, apa ini hoax lagi?. Lantas siapa yang membuat?. Atau sebaliknya, bahwa selama ini sebenarnya penyerangan terhadap ustadz itu memang benar-benar ada,” ujarnya.

Di samping penyerangan terhadap ulama, Habib Aboe Bakar menyampaikan bahwapihaknya juga mengklarifikasi adanya isu tindakan kekerasan yang dilakukan kepada Muhammad Jefri, seorang terduga teroris yang ditangkap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri.

“Kita juga mengklarifikasi adanya isu Siyono Jilid II. Ada kabar kasus Siyono kembali terulang. Kali ini menimpa Muhammad Jefri yang meninggal saat dilakukan pemeriksaan oleh Densus 88,” katanya.

Pasalnya, Muhammad Jefri yang ditangkap oleh Densus 88 pada tanggal 7 Februari 2018 dikembalikan kepada pihak keluarga dalam keadaan meninggal dunia di tanggal 10 Februari 2018 setelah menjalani investigasi di Densus 88.

“Ini harus dijelaskan dengan baik oleh Kapolri, agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap institusi polri,” tegas Habib Aboe Bakar. (Aldo)

Comments

Most Popular

To Top