Beritabuana.co

Headline

Kalau Bukan Sakit Jiwa, Hakim di PN Tangerang Pasti Nolak Suap Rp 30 Juta

Hakim dan Penitera PN Tangerang yang tertangkap KPK karena korupsi.

Andoes Simbolon

Oleh: Andoes Simbolon
KASUS suap hakim Wahyu Widya Nurfitri dan panitera pengganti Tuty Atika di PN Tangerang benar-benar memalukan dunia peradilan kita. Tidak saja profesi hakim dan panitera, wajah lembaga pengadilan pun dipermalukan dan semakin menjatuhkan wibawa penegakan hukum itu sendiri. Mereka ditangkap dalam.operasi tangkap tangan (OT) KPK, Senin (12/3) kemarin.

Gara-gara tergiur uang sebesar Rp 30 juta, rusak semuanya. Air liur hakim Wahyu ternyata menetes saat pengacara menyodorkan uang sebesar itu. Maaf saja, sudah sakit jiwa memang hakim ini sehingga dia gelap mata sampai tidak perduli dengan profesinya sebagai hakim. Apalagi namanya bukan kalau tidak sakit jiwa? Sebab kalau dia waras, berfikir jernih, sudah pasti ditolaknya mentah-mentah tawaran uang suap tersebut.

Tidak perlu diajari lagi apa dan bagaimana profesi hakim. Wahyu juga tak perlu diberitahu seperti apa gencarnya KPK memberantas korupsi di negeri ini. Dia pun tak perlu digurui apa akibat perbuatan korupsi. Wahyu sudah pasti tahu semuanya, karena dia adalah hakim yang mengetahui sudah begitu banyak pejabat dan penyelenggara negara serta penegak hukum yang ditangkap dan berhasil dijebloskan KPK ke dalam.penjara.

Sepertinya, kasus suap yang menimpa hakim, panitera pengganti di PN Tangerang bersama kedua pengacara itu sudah tidak terlalu relevan mengaitkannya dengan sistim peradilan dan regulasinya. Sistim dan regulasi tidak perlu dipermasalahkan karena sebetulnya sudah memadai dan tersedia dengan lengkap. MA pun sudah melakukan pembinaan-pembinaan kepada semua hakim yang bertugas di pengadilan. Jadi, tak perlu dipermasalahkan.

Seperti halnya dengan kepala daerah yang melakukan korupsi, kasus hakim Wahyu ini lebih kepada masalah mentalitas dan moralitas serta integritas mereka sebagai penegaj hukum. Bayangkan, kalau bukan karena masalah mentalitas ,moralitas dan integritas, hakim maupun panitera tersebut tidak akan mau menerima uang suap dari pengacara, apalagi jumlahnya hanya Rp 30 juta. Berapa sih uang itu? Bagi penegak hukum seperti Wahyu, uang tersebut tidak ada artinya jika dibanding dengan profesinya yang begitu mulia dan terhormat. Ibaratnya, hanya 2 – 3 kali shoping ke Plaza Senayan atau Senayan City dan Plaza Indonesia, uang Rp 30 juta itu sudah ludes. Ini artinya, uang suap Rp 30 juta sebetulnya tidak lah berarti apa-apa.

Namun, itu tadi, karena sudah tidak waras, profesinya pun digadaikan, demi memenangkan perkara yang sedang ditanganinya, suap pun diterimanyam Akibatnya, wajah dunia peradilan dipermalukan, keadilan diperjualbelikan. Wahyu telah menampar wajahnya sendiri di depan masyarakat. Ironis sekali. ***

Comments

Most Popular

To Top