Beritabuana.co

Nasional

Pengamat Ini Ingatkan Bahaya Politik Dinasti

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kasus suap oleh Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Adriatma Dwi Putra adalah contoh bahayanya politik dinasti. Demi pemenangan ayahnya dalam perebutan kursi gubernur Sulawesi Tenggara tahun ini, Adriatma pun harus meminta uang miliaran rupiah dari pengusaha bernama Hasmun.

“Itu lah cermin dari politik dinasti, satu keluarga saling mendukung mencari dana untuk kemenangan anggota keluarga tersebut,” kata pengamat dan penggiat anti korupsi Adilsyah Lubis menjawab beritabuana.co di Jakarta, Selasa (13/3).

Kasus korupsi anak dan bapak yang ditangkap KPK pada 28 Februari lalu menjadi sorotan publik. Setelah menjabat Wali Kota Kendari 2 periode, Asrun digantikan oleh anaknya, Adriatma.

Pada pilkada serentak 2018 ini Asrun adalah salah satu calon gubernur Sulawesi Tenggara. Untuk membiayai kampanye Asrun, anaknya ini menghubungi Direktur PT Sarana Bangun Nusantara, Hasmun, yang sejak 2012 memenangi beberapa proyek di Kendari.

Dalam kasus ini tim.penyidik KPK menyita uang senilai hampir Rp 2,8 miliar pada 7 Maret lalu dari seorang kenalan Adriatna dalam bentuk pecahan Rp 50.000. Uang tersebut diperkirakan akan dibagi-bagikan kepada masyarakat.

 Melanjutkan pernyataannya, Adilsyah menyatakan, pada waktunya hasil korupsi dinasti politik seperti yang dilakukan Asrun  juga akan dinikmati oleh keluarga dinasti tersebut.

“Seperti korupsi keluarga berjamaah,” ujarnya.

Menurut dia kasus korupsi seperti di Kendari memang sudah sangat memprihatinkan, karena uang hasil suap tersebut dipakai untuk membeli suara pemilih atau masyarakat. Artinya kata Adilsyah, pemimpinnya juga rusak dan rakyat sebagai pemlih juga ikut-ikutan rusak.

“Jadi sama-sama rusak, rakyat juga mau memilih kalau ada duitnya. Calon kepala daerah membeli suara supaya bisa dipilih se banyak-banyaknya dan jadi pemenang,” ujar Adilsyah. (Ndus)

Comments

Most Popular

To Top