Beritabuana.co

Nasional

Kejagung Dinilai Tutupi Penyidikan Kasus Pembobolan Bank Mandiri Rp1,5 Triliun

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) dinilai menutup diri dan kurang obyektif dalam menyidik kasus dugaan pembobolan Bank Mandiri Cabang Bandung senilai Rp1,5 triliun melalui pemberian kredit terhadap PT Tirta Amarta Bottling (PT TAB).

Demikian diungkapkan LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) saat menanggapi proses penyidikan yang dilakukan oleh tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).

“Kalau alasannya hanya karena takut ‘rush’, justru dengan penegakkan hukum yang tegas rakyat akan makin percaya dengan Bank Mandiri dan tidak ada rush,” kata Koordinator LSM MAKI, Boyamin Saiman kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (13/3).

Menurutnya, jika alasan adanya khawatiran rush hingga tidak mau mengumbar perkembangan penyidikan dugaan pembobolan Rp1,5 triliun adalah kurang tepat. MAKI justru menduga, alasan itu hanya untuk menutupi tidak keprofesionalannya dalam menangani perkara dugaan kasus tersebut.

Seperti diketahui, sampai saat ini tim penyidik pada Jampidsus telah menetapkan empat tersangka dalam perkara itu, yakni, pimpinan PT TAB Rony Tedy, Surya Baruna Semenguk (SBS) menjabat Komersial Banking Manajer Bank Mandiri, Frans Eduard Zandra (FEZ) menjabat Relationship Manager, dan Teguh Kartika Wibowo (Senior Kredit Ris Manager).

Berdasarkan informasi, hanya pimpinan PT TAB, Rony Tedy saja yang sudah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Agung, sedangkan tiga tersangka lainnya tidak diketahui bagaimana perkembangan penyidikannya.

Meski demikian, Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus, Warih Sadono juga enggan memberikan penjelasan terkait perkembangan penyidikan kasus dugaan pembobolan Bank Mandiri itu.

Sebelumnya Jaksa Agung HM Prasetyo juga menegaskan, penyidikan dugaan pembobolan Bank Mandiri Cabang Bandung Rp1,5 triliun melalui pemberian kredit kepada PT TAB itu harus jalan terus.

“Prosesnya jalan terus, jadi tunggu saja nanti pada saatnya pasti akan bermuara ke persidangan,” katanya usai melantik sejumlah Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) baru di lingkungan Kejagung, akhir pekan kemaren.

Ditambahkan, sampai saat ini tim penyidik pada Gedung Bundar Kejagung masih terus melakukan pendalaman, tapi belum menyentuh level direksi Bank Mandiri.

“Sampai saat ini belum menyentuh level direksinya,” kata Prasetyo menandaskan.

Adapun modus pembobolan yang dilakukan tersangka, adalah dengan memasukkan data aset yang tidak benar terkait PT TAB ke dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit.

Kasusnya bermula pada 15 Juni 2015 lalu, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Commercial Banking Center Bandung.

Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp 880,6 miliar, perpanjangan dan tambahan plafond LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafond LC menjadi Rp 50 miliar serta fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang nyata. Berdasarkan Nota Analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan.

Akhirnya, perusahaan itu bisa memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada tahun 2015 sebesar Rp 1,17 triliun. Selain itu, debitur PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit, antara lain, sebesar Rp 73 miliar yang semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan KI dan KMK namun dipergunakan untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit. Oisa

Comments

Most Popular

To Top