Beritabuana.co

Headline

Pilpres Bukan Masalah Calon Tunggal, Pakar: Justru Saya Khawatir Masuk Uang Narkotika dan Korupsi

Pakar Hukum Pidana Universitas Yenti Garnasih

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Dr. Yenti Garnasih mengkhawatirkan uang yang nanti digunakan untuk pemilu dan pilpres dari uang-uang ‘haram’ hasil pencucian uang narkotika dan hasil korupsi.

“Jika hal ini benar terjadi, maka malapetaka bagi bangsa Indonesia. Karena itu saya sangat berharap Bawaslu dapat bekerja dengan cermat dan tepat,” ungkap Yenti yang juga mantan Pansel KPK dalam diskusi yang mengkat tema “Calon Tunggal Presiden” di Rumah Makan Ayam Goreng Ny. Suharti, Minggu (11/3/2018).

Yenti menjelaskan kekhawatirannya itu, meski tidak menuduh ada dasarnya. Di antaranya dari jumlah uang yang bisa digunakan untuk biaya kampanye. Meski sudah ditetapkan, banyak terdapat celah yang disalahgunakan.

Misal, sebut Yenti, jumlah batas biaya kampanye dan sumbangan korporasi. “Yang korporasi begitu dicek rumahnya penyumbang itu, ternyata rumahnya ngontrak dan sangat tidak layak untuk menyumbang dalam jumlah yang tertera,” katanya.

“Saya bukan orang politik. Jadi saya tak bisa bicara banyak soal politik. Penekanan saya ya hanya masalah pelanggaran hukum terhadap dana-dana untuk pemilu dan pilpres. Kan sudah ada contoh di daerah, calon korupsi uangnya disimpan di hutan. Akan digunakan pada kampanye nanti,” katanya lagi.

Lebih berbahaya lagi, jika uang-uang hasil dari narkotika, digabungkan juga dengan hasil korupsi untuk membiayai salah satu calon dan, yang dibiayai menang pula. Ini jelas menjadi malapetaka bagi negara. Karena tentunya mereka akan minta imbal dari biaya tersebut.

Karena itu, ia meminta kepada semua pihak penyelenggara pemilu dan pilpres, agar melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Semua uang yang digunakan harus diketahui persis keberadaannya dari mana. Semua harus terdaftar dengan benar.

Intinya, Yenti kembali mengingat, jangan sampai uang hasil narkotika dan korupsi, dan terus ditambah bantuan dari kaum radikalisme bergabung menjadi satu pembiayaan salah satu calon pilpres.

“Permainan politik itu memiliki tujuan. Jika tujuannya nanti menyelamatkan pelaku-pelaku kriminal, hasilnya saya pastikan malapetaka bagi rakyat Indonesia,” kata Yenti.

Kepada partai politik Yenti pun berharap untuk selalu menciptakan kader-kader penerus bangsa yang baik. Jangan ada mendahulukan kuantitas karena memiliki banyak uang, tapi kualitas yang didahulukan.

Di pemilu dan pilpres nanti partai tak lagi menyatakan harus ada uangnya, tapi sudah harus mengedepankan uangnya itu dari mana? (Kds)

Comments

Most Popular

To Top