Beritabuana.co

Nasional

Peringati Peristiwa “Merah Putih” Ronny Sompie Tabur Bunga di Kalibata

Ronny F Sompie menjadi Irup peristiwa "Merah Putih" di TMP Kalibata

PERISTIWA heroik pemuda-pemuda Minahasa dalam perjuangan kemerdekaan RI yang dikenal “Peristiwa Merah Putih” yang terjadi 14 Februari 1946, diperingati orang Kawanua di Jakarta dan sekitarnya dengan upacara di depan Tugu Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Rabu (14/2/2018) pagi.

Acara yang diprakarsai Generasi Muda Penerus Perjuangan Merah Putih (GMPPM) ini bertindak sebagai Inspektur Upacara Ketua Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Dr Ronny F.Sompie.

Ratusan peserta upacara yang terdiri tokoh-tokoh asal Kawanua, keluarga pahlawan 14 Februari dan grup tari kabasaran dengan khidmat mengikuti upacara mengenang para pahlawan Minahasa yang gagah berani melawan penjajah Belanda.

Setelah meletakkan karangan bunga di tugu pahlawan Ronny Sompie bersama pimpinan DPP KKK lainnya mengelilingi pusara-pusara pahlawan kusuma bangsa termasuk para pejuang yang ikut dalam peristiwa heroik 14 Februari 1946 tersebut. Di antara para pahlawan itu, Christian David Ponto,
Dr Erlich Sanger, Justus Kotambunan, C.H Taulu, dan Pangau Jonas Karamoy.

Selain itu, acara tabur bunga diberikan kepada para pahlawan asal Minahasa seperti mantan Kasal R.Kasenda, mantan Pangdam Jaya Letjen TNI GH.Mantik, mantan Kepala BIN Letjen Arie Kumaat, Laksda F.Sumanti, Ir.Herling Laoh, Frits Johanes Tumbelaka,Samuel Kumaunang, dan Piere Tendean.

di pusara pahlawan termuda di Kalibata B.Runtunuwu (14 tahun)

Ronny F. Sompie bersama rombongan sempat tertarik di pusara pejuang termuda yang dimakamkan di TMP Kalibata.

Pejuang remaja yang tergabung dalam Laskar KRIS (Kerapatan Rakyat Indonesia Sulawesi) tewas dalam pertempuran yang sangat fenomenal di antara Karawang dan Bekasi.

Betapa tidak, B.Runtunuwu tentu pejuang yang gagah berani seperti Daan Mogot di Tangerang. Runtunuwu harus meregang nyawa membela ibu Pertiwi di saat usianya baru 14 tahun.

Menurut buku Ben Wowor, salah satu pejuang angkatan 45, peristiwa 14 Februari berawal dari kekalahan Jepang di Pasifik.

Akhir Desember 1945, seluruh pasukan Sekutu (Australia) meninggalkan Manado dan tugas sekutu diserahkan kepada NICA-KNIL di bawah pimpinan Tentara Inggris yang berpusat di Makassar. BPNI melihat kesempatan ini dan pemimpinnya, John Rahasia dan Wim Pangalila, merancang suatu pemberontakan pemuda yang akan dibantu oleh Freddy Lumanauw dari Pasukan Tubruk di Teling.

Bagian NEFIS-Belanda (intelijen) mulai mencurigai Lumanauw dan Pakasi yang kedapatan telah disusupkan oleh Dr Ratulangi dari Jakarta ke dalam KNIL. Mereka berdua dimasukkan dalam penjara di Manado oleh oditur militer Schravendijk dan akan diproses untuk diadili.

Rencana John Rahasia dan Wim Pangalila untuk merebut kekuasaan pada upacara NICA 10 Januari, juga diketahui NEFIS dan semua tokoh pemuda BPNI di Manado dan Tondano telah ditangkap pada hari sebelumnya. Dua minggu kemudian mereka dilepaskan karena belum ada bukti hukum untuk dapat dituntut di mahkamah militer.

Awal Februari 1946 komplotan militer KNIL di Teling masih dicurigai oleh bagian intel NEFIS dan panglima KNIL yang bermarkas di Tomohon memerintahkan supaya menahan dalam ‘’streng arrest’’ di Teling para pemimpinnya, yakni Furir Taulu, Sersan Wuisan, Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga dan Wim Tamburian, karena mereka telah menghasut tentara Indonesia dari kompi-kompi di Teling, Tomohon dan di Girian supaya berontak karena kekurangan gaji, ransun, rokok, berbeda dengan jaminan yang diterima oleh sesama tentara bangsa Belanda. Apalagi tentara Indonesia yang berperang di bawah pimpinan Sekutu dalam Perang Dunia II dihargai dan dijamin sama dengan seluruh pasukan.

Belanda tidak mengetahui bahwa hasutan-hasutan di seluruh kalangan militer Indonesia hanyalah untuk menutupi rahasia yang bertujuan sebenarnya untuk menggulingkan kekuasaan Belanda dan menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Pimpinan rencana kup ini hanya menggunakan strategi kampanye untuk memuluskan pelaksanaannya dengan melancarkan provokasi tentang ketidakadilan jaminan antara tentara Indonesia dan tentara Belanda. Tentara KNIL umumnya bukan inginkan kemerdekaan.

14 Februari 1946

Khusus Kompi-VII bekas Pasukan Sekutu yang terkenal pemberani dan menjadi tumpuan harapan pimpinan KNIL tidak diduga Belanda telah dapat dipengaruhi, bahkan komandan peleton I Kopral Mambi Runtukahu telah ditunjuk oleh Taulu dan Wuisan untuk memulaikan aksi penyergapan pos-pos di markas garnisun Teling-Manado tepat nanti pada jam satu tengah malam. Dan menangkap semua tentara Belanda, mulai dengan komandan garnisun Kapten Blom, komandan Kompi-VII Carlier, CPM dan seterusnya di Kota Manado. Hal ini telah berlangsung sesuai rencana rahasia dari Taulu-Wuisan.

Tidak ada perlawanan, karena semua tentara Indonesia yang tidak termasuk Pasukan Tubruk hanya menganggap bahwa pemberontakan militer ini hanya perlu untuk menuntut keadilan serta perbaikan nasib dan jaminan yang sama bagi tentara Indonesia. Ketiga pimpinan Taulu, Wuisan dan Lumanauw yg ga dibebaskan dari tahanan dan semua tentara Belanda ditampung sementara oleh Kopral Wim Tamburian dalam satu gedung di Teling. Keluarga mereka di berbagai kompleks militer tidak diapa-apakan tetapi mereka semua akhirnya dikumpulkan di Sario.

Kaum nasionalis yang ditangkap NICA karena dituduh kolaborator Jepang seperti Nani Wartabone, OH Pantouw, Geda Dauhan, yang berada di penjara termasuk pimpinan pemuda BPNI, John Rahasia dan Chris Ponto yang berniat memberontak pada Januari yang lalu, semuanya dibebaskan oleh aksi militer Kompi-VII.

Frans Bisman dan Freddy Lumanauw berangkat dengan dua peleton pada pagi hari ke markas besar KNIL di Tomohon untuk menangkap komandan KNIL De Vries dan Residen NICA Koomans de Ruyter. Kemudian satu regu pemberontak militer dari Manado menuju ke Girian-Tonsea untuk menahan Letnan Van Emden, komandan kompi yang menjaga kamp tawanan Jepang. Mula-mula mereka alami kesulitan tetapi Kumaunang dapat menangkapnya dengan cepat.

Kapten KNIL J Kaseger yang selama ini non-aktif di Tondano dan sedang memulihkan kesehatannya karena penderitaan selama ditahan tentara Jepang, tidak menyangka berhasilnya kup militer Indonesia terhadap atasannya Belanda. Ia segera ke Manado dan Furir Taulu, Sersan Wuisan dan Sersan Nelwan mengajaknya untuk mengambil alih pimpinan pemberontakan karena pangkatnya yang lebih tinggi. Kaseger adalah tamatan Akademi Militer di Breda, Belanda, dan apa salahnya ia sebagai orang Indonesia melepaskan sumpah kesetiannya pada Ratu Belanda dan ikut dalam perjuangan kemerdekaan bangsanya.

Ronny bersama Angelica Tengker di pusara Letjen Ari Kumaat

15 Februari 1946

Komandan KNIL De Vries yang tertawan dihadapkan oleh Kaseger kepada Taulu dan Wuisan untuk memperoleh kesepakatan dalam menyelesaikan perselisihan mereka. De Vries bertanya apakah kup militer ini dapat menjamin kelangsungan hidup dan keamanan 8 kompi tentara dan 8000. Tawanan Jepang tanpa bantuan suplai Belanda atau Sekutu atau dari manapun? Pada saat itu sebenarnya Taulu sudah harus menyerah tetapi ia katakan bahwa kup militer ini: ‘’kami bersama pemuda sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan ini kami pertahankan.’’ Kaseger hanya membiarkan Taulu dan Wuisan tetap pada pendirian mereka tetapi ia juga tidak memihak pada De Vries, apalagi pemuda BPNI telah menguasai situasi dan membantu pemberontakan. Di seluruh daerah Minahasa mulai dikibarkan bendera Merah-Putih  dan semua pamong praja ditertibkan dalam alam pemerintahan baru yang merdeka.

16 Februari 1946

Sidang darurat Dewan Minahasa di Manado menetapkan sesuai rencana semula Kepala Distrik Manado, BW Lapian sebagai Kepala Pemerintah Merah-Putih Merdeka dengan kabinet serta berbagai departemennya, yakni W Saerang (sekretariat), DA Th Gerungan (pemerintahan), Alex Ratulangi (keuangan), drh Wim Ratulangi (perekonomian), R Hidayat (kehakiman), Mayor SD Wuisan (merangkap kepolisian), dr Ch Singal (kesehatan), E Katoppo (pengajaran), Max Tumbel (perhubungan/pelabuhan).

Selanjutnya barisan pemuda PPI dipercayakan untuk memelihara keamanan di seluruh wilayah di bawah hulubalang-besar ED Johannes dan para hulubalang dengan kota serta kecamatan, yakni untuk kota besar Manado John Rahasia, selanjutnya untuk berbagai wilayah kecamatan para komandan Mat Canon, Eddy Mondong, Jo Supit, John Malonda, Max Roringkon, Ton Lumenta dan lain-lain.

Ronny F.Sompie sebagai penasehat GMPPM, mengajak generasi muda asal Minahasa (Kawanua) untuk terus berjuang dalam bingkai NKRI.

“Perjuangan saat ini bukan lagi mengangkat senjata seperti saat zaman kemerdekaan. Saat ini kita berjuang memerangi kebodohan dan kemiskinan,” tutur Ronny yang juga Dirjen Imigrasi Depkumham. (Nico)

Comments

Most Popular

To Top