Beritabuana.co

Headline

Golkar Sebut Pelaku Penyerangan Tokoh Agama Tak Berdiri Sendiri

BERITABUANA.CO, JAKARTA – DPP Partai Golkar mencurigai ada gerakan yang muncul saat ini, untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia. Penyerangan terhadap tokoh agama yang terjadi beberapa minggu ini, bukan tidak mungkin ada yang mengorganisir dan tidak berdiri sendiri, yang mengakibatkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama bias terganggu.

Demikian pernyataan yang disampaikan pengurus DPP Partai Golkar kepada wartawan di Media Center Gedung Nusantara III DPR RI, Senin (12/2).

“DPP partai Golkar mengutuk keras penyerangan terhadap agama yang dilakukan oleh siapa pun di negeri ini,” tegas Ketua DPP Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin yang didampingi Melchias Marcus Mekeng, Nusron Wahid.

Sebelum peristiwa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogjakarta, peristiwa serupa sudah terjadi sebelumnya, yaitu di Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalangka, Kabupaten Bandung, kemudian di Kemanggisan, Pal Meraj, Jakarta Barat.

“Kita tidak boleh pecah, karena masyarakat termakan isu yang mengadu domba. Partai Golkar ingin melindungi hak-hak sipil seluruh rakyat Indonesia,” imbuh Mekeng.

Sedang Nusron berkeyakinan, pelaku penyerangan jemaat dan pastor di gereja Santa Lidwina orang yang tidak beriman, apa pun agamanya. Pelakunya pun bukan kebetulan, karena gerakan penyerangan terhadap tokoh agama sistematis.

“Pelakunya mengaku gila, yang mengorganisir orang gila untuk kepentingan yang gila juga,” kata Nusron sembari menyatakan, Negara tidak boleh kalah sama preman dan aparat harus hadir ditengah masyarakat, sehingga peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Partai Golkar kata Nusron, tegak lurus dengan Pancasila, NKRI, bhineka tunggal ika dan UUD Negara RI. Partai Golkar mendesak aparat kepilisian segera menangkap sindikat pelaku penyerangan tokoh agama di Bandung, Jakarta Barat dan Yogjakarta.

Menurut Ali Mochtar Ngabalin, peristiwa dibeberapa tempat ini dilakukan oleh orang sakit dan gila, yang tidak memiliki peradaban.

“Peristiwa serupa tidak boleh dibiarkan,” tegasnya. (Ndus)

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top