Beritabuana.co

Komunitas

Bukan Parpol Aja yang Bisa Munas, Paguyuban Burung Perkutut Lokal Juga Munas

Kontes burung perkutut lokal

BERITABUANA.CO, SEMARANG – Musyawarah Nasional Paguyuban Pelestari dan Pecinta Perkutut Lokal Indonesia (P4LSI), akan digelar di Semarang, Jawa Tengah. Dipastikan ratusan penggemar burung perkutut lokal dari berbagai daerah di Indonesia, akan datang.

Menurut Sekretaris Jenderal P4LSI Adi Suyono, Munas I P4LSI yang berlangsung di Padepokan Dzikir Al-Hikmah Akbar, Dukuh Mundingan, Gunungpati, Semarang,  mengagendakan pemilihan pengurus pusat P4LSI, penyusunan AD/ART, dan pengurus koordinator daerah dan daerah.

Ditambahkan, pendirian paguyuban itu paling utama adalah untuk mengangkat popularitas perkutut lokal yang selama ini tersisihkan, padahal seni memelihara perkutut lokal merupakan warisan budaya leluhur.

 “Awalnya, paguyuban ini (P4LSI) berawal dari komunitas yang terbentuk di jejaring Facebook dengan nama Misteri Perkutut Lokal. Awalnya, hanya 100-200 anggota, namun setelah lima tahun berjalan sudah ada 40 ribu anggota aktif,” katanya, Minggu (4/2/2018)

Nati dari munas ini, jelas Adi,  sudah terbentuk korda di lima provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikembangkan lagi pembentukan korwil atau tingkat kabupaten/kota.

Menurut pengusaha kelahiran Ngawi, 8 Mei 2981 itu, seni memelihara perkutut sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang, yakni jenis perkutut lokal, bukan perkutut bangkok yang sudah dikembangkan secara genetis di Thailand.

Perkutut lokal ini, ada tiga kategori, yakni perkutut lokal alam yang habitatnya asli di alam, lokal ternak yang dibudidayakan oleh peternak, dan perkutut “crossing” atau persilangan perkutut lokal dan bangkok.

Memelihara perkutut lokal biasanya dikaitkan dengan hal-hal mistis karena memang ada semacam “primbon” atau kitab kuno Jawa yang menjelaskan, misalnya dari katuranggan atau ciri fisik yang dimiliki burung perkutut.

Misal, ada katuranggan yang dianggap membawa keberuntungan, katuranggan yang membawa rezeki, dan sebagainya. Biasanya, perkutut dengan katuranggan seperti ini banyak dicari untuk dipelihara.

Menurut pria yang sudah mengoleksi burung perkutut selama 60 tahun ini, lomba-lomba khusus perkutut lokal semakin marak, seperti pernah diadakan di Malang, Semarang, Kudus, Nganjuk, dan Cilacap yang memperlihatkan animo masyarakat terhadap perkutut lokal sangat besar.

“Ke depan, kami akan lebih giatkan lomba. Kalau selama ini, lebih ke lomba ‘gacor-gacoran’ atau paling rajin berbunyi. Nanti, mulai dikembangkan ke seni irama. Artinya, tidak sekedar rajin berbunyi, tetapi iramanya dinilai,” katanya.

Sekretaris Korda P4LSI Jateng Ahmad Bahtiar Rifai menyebutkan munas pertama yang menetapkan Giyanto Hadi Prayitno sebagai Ketua Umum P4LSI itu dihadiri setidaknya 300 penggemar perkutut dari berbagai daerah.

“Kalau perkutut bangkok sudah ada, namanya Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI). Kompetisinya untuk perkutut bangkok murni seni suara. Dari suaranya, perkutut lokal dan bangkok juga berbeda,” katanya.

Untuk perkutut lokal, diakuinya, tidak bisa dilepaskan dari mitos-mitos yang berkembang dalam dunia perkututan sejak zaman dahulu, terutama mengenai “cirimathi” atau dilihat ciri fisik tertentu yang dimiliki burung perkutut.

“Misalnya, perkutut dengan cirimathi tertentu bisa menyampaikan doa kepada pemiliknya, seperti rezeki, dan sebagainya. Orang berpatokan pada buku primbon. Ini sebenarnya bentuk kearifan lokal yang harus dilestarikan,” katanya.

Pada penyelenggaraan Munas I P4LSI itu yang berlangsung gratis itu, dimeriahkan pula dengan pelepasan 150 ekor perkutut lokal ke alam dan pembagian “doorprize”, mulai burung perkutut, sangkar, dan pakan yang disumbangkan donatur. (Smr)

Comments

Most Popular

To Top