Beritabuana.co

Newstainment

Indahnya Kelenteng Hok Tjing Rio dengan Sejarahnya

Kelenteng hok tjing rio/Nico Karundeng

RIAK ombak kecil memancar ke dalam perahu beberapa saat memasuki dermaga Pulau Kemaro. Di sinilah terdapat tempat wisata nan indah bersama sejarahnya yang menyayat hati, yakni Kelenteng Hok Tjing Rio.

Foto: Nico Karundeng

Perjalanan selama kurang lebih 30 menit dari dermaga Ulu 7 Jembatan Ampera, menyusuri Sungai Musi tak terasa, karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan beraneka di kedua sisi sungai.

Di sisi kanan deretan perahu dan rumah-rumah warga nelayan, sedangkan di sisi kiri pelabuhan dengan kapal-kapal besar dan kompleks pabrik pupuk Sriwidjaja yang sangat terkenal. Setelah perahu bersandar di dermaga kami turun dan disambut pintu gerbang kompleks

Kelenteng Hok Tjing Rio. Siang cuaca agak terik, tapi di kawasan kelenteng sangat asri karena banyak tumbuhan rindang di kawasan seluas kurang lebih 2 hektar tersebut.

Ada beberapa pedagang makanan menjajakan dagangannya, tapi siang itu terlihat sepi. Pengunjung hanya beberapa gelintir orang sibuk mengambil gambar dengan latar belakang kelenteng dan bangunan tugu di belakangnya.

“Hari ini agak sepi, kalau Sabtu dan Minggu cukup ramai pengunjung,” tutur Syamsul (55) tukang foto di Kompleks Kelenteng, Pulau Kemaro.
Ditambahkan, puncak kunjungan wisatawan ke Pulau Kemaro, menjelang Imlek.

“Ribuan pengunjung yang datang menjelang Imlek. Selain bertamasya mereka berdoa di kelenteng,” jelasnya.

Masih menurut Syamsul, pengunjung bukan hanya datang dari Palembang dan sekitarnya, tapi dari Riau, Jambi, Padang, Lampung bahkan Jakarta.

Luas pulau Kemaro sendiri menurut Syamsul, panjangnya sekitar 3 km dan yang dipakai jadi kompleks Kelenteng hanya sebagian kecil. Kelenteng ini menurutnya, dibangun tahun 1962 oleh seorang saudagar Tionghoa asal Palembang.

Pembangunan kelenteng ini menurut keterangan, untuk mengenang legenda mengenai Pulau Kemaro yang terjadi beberapa abad silam.

Cerita legenda itu kisah cinta antara seorang saudagar asal Tiongkok bernama Tan Bun An yang mempersunting seorang putri raja Palembang bernama Siti Fatimah.

Setelah berkeluarga Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke Tiongkok untuk diperkenalkan kepada orangtuanya. Begitu pamit, kedua orangtuanya menghadiahkan 7 buah guci kepada Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Alkisah, mereka kemudian kembali berlayar ke Palembang. Begitu menyusuri Sungai Musi, Tan Bun An membuka sebuah guci ingin mengetahui isinya. Tan Bun An sangat kaget dan kecewa ternyata hanya berisi sawi-sawi, sehingga ia membuang guci-guci lainnya. Tetapi begitu ia membuang guci yang ke-7, guci itu mengenai badan perahu dan begitu pecah berhamburan perhiasan emas.

Tan Bun An menyesal telah membuang guci lainnya, tanpa pikir panjang terjun ke sungai. Ia pun tenggelam, sehingga pelayannya ikut terjun untuk menolong.

Apa daya sang pelayan juga tak muncul lagi ke permukaan air. Siti Yang melihat suami dan pelayan tenggelam, akhirnya ikut terjun dan hilang ditelan Sungai Musi yang dalam.

Legenda ini kemudian turun temurun diceritakan warga Palembang. Dan karena tenggelamnya ketiga orang ini di sekitar Pulau Kemaro, akhirnya legenda ini makin terkenal dan menarik wisatawan berkunjung ke pulau yang berjarak 30 km dari kota Palembang. (Nico)

Comments

Most Popular

To Top