Beritabuana.co

Komunitas

Gus Hayid: Rasulullah Dalam Berdagang Tak Selalu Mengedepankan Untung

BERITABUANA.CO, JAKARTA– Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Skill Jakarta, KH. Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid mengatakan bahwa prinsip dagang yang dilakukan oleh Rasullah SAW pada zaman dahulu tidak pernah sendirian atau dengan cara mengajak sahabat dan teman-temannya.

Hal tersebut disampiakan oleh Gus Hayid saat Ngaji Bareng Bisnis Ala Rasulullah bersaa Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Moskow, Rusia dengan menggunakan saluran Nutizen.

“Prinsip dasar yang dipegang Rasul dalam menjalankan bisnisnya ini jarang dilakukan oleh orang muslim, tapi orang lain yakni Rasul dalam berdagang melibatkan temen-temennya, kalau sekarang ini bisnis ala Koperasi,” kata Gus Hayid.

Menurut Gus Hayid, prinsip bisnis tersebut dilakukan karena sangat memungkinkan adanya komunikasi antara satu dengan lainnya dalam mengembangkan bisnis kedepan.

“Waktu pergi Syam, Yaman dan lainya Rasul bersama sahabat saat ditengah jalan pasti ada dialog, psti dialog yang untuk memajukan binisnya dan lainnya,” ujarnya.

“Dan, kalau melihat pola yang sedehana ini, pola koperasi sudah sesuai UUD dan sudah tepat,” sambung Sekjen DPP Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) ini.

Selain itu, lanjut Gus Hayid, Rasul juga menjalankan prinsip kerjasama. “Rasul kembangkan dagang dengan kerjasama, dulu saat berdagang tidak produksi sendiri, jadi ambil di Madinah dijual di Syam, ambil Syamm dijaual ke Yaman dan lainnya,” jelas Gus Hayid.

Hal tersebut berbeda saat di Madinah, karena islam sudah kuat. “Beliau (Rasul) membentuk market dan sistem sendiri,” ucapnya.

Menurutnya, ada seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Auf, entrepeneuar besar, dan saat melihat pasar curang oleh bani Yahudi, rasul memerintahkan Abdurrahman bin Auf tersebut.

Namun, dari itu semua, kata Gus Hayid Rasul dalam berdagang dan berbisnis selalu mengedepankan amanah, jujur dan serta menjaga kehormatannya dengan tidak menipu atau mengurangi timbangan.

“Jadi, pola bisnis Rasul tak mengedepankan untung, tapi membangun sinergi kuat dan silaturrahmi yang luas. Misalnya ada yang kurang modal, Rasul akan memberi karena ada unsur shodaqoh, kalau dilihat ada duit maka mengambil untung yang tak besar. Nah, hal ini berbeda dengan kita yang melakukan aji mumpung,”tutur Gus Hayid.

Dan, Rasulullah dalam berdagang juga selalu menepati janjinya. “Tradisi pola bisnis Rasul itu sellau menepati janji,” tutup Gus Hayid. (Kds)

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top