Beritabuana.co

Komunitas

Gus Hayid: Hukum Menghormati Tetangga Adalah Wajib

BERITABUANA.CO– Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Skill Jakarta yang juga Pengurus Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH. Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid mengatakan bahwa hukum dalam menghormati tetangga adalah wajib.

Menurut Gus Hayid, Hal itu didasarkan atas Firman Allah dalam Alquran dan dalam Kitab Al Burhan fi Syuabil Iman karya Imam Asysyirbazi.

“Hukum dalam menghormati tetangga itu wajib artintya apa? orang yang menyakiti terkena hukum kebalikanya yiatu haram, dosa. Maka mari kita cek diri kita dan keluarga, berkaca diri kita dan keluarga apakah sudah bertetangga dengan baik atau termasuk yang dilaknat katena menyakiti tetangga,” kata Gus Hayid.

Hal itu disampaikan Gus Hayid dalam acara ‘Ngaji Bareng Etika Bertentangga’ di Kantor PBNU yang juga disiarkan langsung oleh Chanel 164, dan diikuti para Pengurus Cabang Istimewa NU di seluruh dunia.

Gus Hayid lalu membacakan satu ayat Alquran terkait etika bertetanga dalam Surat An-Nisa ayat 36 yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan apa yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”.

Dari ayat tersebut, setidaknya ada sepuluh poin yang dijelaskan oleh Gus Hayid. Poin tersebut pertama bahwa Allah Ta’ala dalam ayat ini memerintahkan kita hanya menyembah kepada-Nya saja dan mengarahkan berbagai bentuk ibadah kepada-Nya, baik berdoa, meminta pertolongan dan perlindungan, ruku’ dan sujud, berkurban, bertawakkal dan lainnya.

Serta juga masuk ke dalam pengabdian kepada-Nya, tunduk kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan rasa cinta, takut dan harap serta berbuat ikhlas dalam semua ibadah baik yang nampak (ibadah lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (ibadah hati). Allah Ta’ala juga melarang berbuat syirk, baik syirk akbar (besar) maupun syirk asghar (kecil).

Kedua, mengenai tuntunan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam hal ini yakni berbuat baiklah kepada baik dalam hal ucapan maupun dalam hal perbuatan. Dalam hal ucapan misalnya dengan berkata-kata yang lembut dan baik kepada kedua orang tua, sedangkan dalam hal perbuatan misalnya menaati kedua orang tua dan menjauhi apa yang dilarangannya serta menafkahi orang tua dan memuliakannya.

Ketiga terkait saudara baik kerabat dekat maupun jauh, yakni kita diperintah berbuat baik kepada mereka dalam ucapan maupun perbuatan, serta tidak memutuskan tali silaturrahim dengan mereka.

Keempat terkait anak yatim yakni anak-anak yang ditinggal wafat bapaknya saat mereka masih kecil. Mereka memiliki hak yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin. Misalnya menanggung mereka, berbuat baik kepada mereka, menghilangkan rasa sedih yang menimpa mereka, mengajari adab dan mendidik mereka sebaik-baiknya untuk maslahat agama maupun dunia mereka.

Selanjutnya, Kelima berbuat baik kepada orang miskin, misalnya dengan memenuhi kebutuhan mereka, mendorong orang lain memberi mereka makan serta membantu sesuai kemampuan.

Keenam, soal tetangga yang menjadi bahasan dalam ngaji bareng kali ini. Tetangga yang dimaksud baik dekat maupun jauh. Di sini ada yang mengartikan dengan tempat, ada pula yang mengartikan dengan hubungan kekerabatan, yakni tetangga dekat maksudnya tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan. Sedangkan maksud tetangga jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.

Tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan memiliki dua hak, hak tetangga dan hak sebagai kerabat. Oleh karenanya, tetangga tersebut berhak mendapatkan haknya sebagai tetangga dan berhak diberlakukan secara ihsan yang ukurannya sesuai uruf (kebiasaan yang berlaku). Demikian juga tetangga yang jauh, yakni yang tidak memiliki hubungan kekerabatan pun berhak mendapatkan haknya sebagai tetangga, semakin dekat tempatnya (rumahnya), maka haknya pun semakin besar. Selaku tetangganya, hendaknya ia tidak lupa memberinya hadiah, sedekah, mengundang, bertutur kata yang baik serta bersikap yang baik dan tidak menyakitinya.

Ketujuh, terkait teman sejawat. Dalam hal ini ada yang mengartikan “teman sejawat” dengan teman dalam perjalanan, ada pula yang mengartikan istri, dan ada pula yang mengartikan dengan “teman” secara mutlak. Selaku teman hendaknya diberlakukan secara baik, misalnya dengan membantunya, menasehatinya, bersamanya dalam keadaan senang maupun sedih, lapang maupun sempit, mencintai kebaikan didapatkannya dsb.

Kedelapan, Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan bukan untuk maksiat dan bekalnya habis sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya. Ibnu Sabil memiliki hak yang ditanggung oleh kaum muslimin, yaitu dengan menyampaikan ibnu sabil ke tempat tujuannya atau kepada sebagian tujuannya, memuliakannya dan bersikap ramah terhadapnya.

Kesembilan, juga mencakup budak maupun hewan yang dimilikinya. Berbuat baik kepada mereka adalah dengan memberikan kecukupan kepada mereka dan tidak membebani mereka dengan beban-beban yang berat, membantu mereka mengerjakan beban itu dan membimbing mereka terhadap hal yang bermaslahat bagi mereka.

Orang yang berbuat baik kepada mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, maka sesungguhnya dia telah tunduk kepada Allah dan bertawadhu’ (berendah hati) kepada hamba-hamba Allah, tunduk kepada perintah Allah dan syari’at-Nya, di mana ia berhak memperoleh pahala yang besar dan pujian yang indah. Sebaliknya, barang siapa yang tidak berbuat baik kepada mereka yang disebutkan itu, maka sesungguhnya dia berpaling dari Tuhannya, tidak tunduk kepada perintah-Nya serta tidak bertawadhu’ kepada hamba-hamba Allah, bahkan sebagai orang yang sombong; orang yang bangga terhadap dirinya lagi membanggakan diri di hadapan orang lain.

Terakhir, kesepuluh, bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan dirinya sendiri.

Gus Hayid lalu membacakan salahsatu dalil dalam Kitab Al Burhan fi Syuabil Iman karya Imam Asysyirbazi bahwa menghormati tetangga itu adalah bagian dari iman.

“Iqrobul Jaar Wajibun, Wahua Minal Imam” (Menghormati dan memulyakan tetangga hukumnya wajib, karena itu adalah bagian keimanan kepada Allah).

“Wahiya min syu’batil iman al adhimah (Menghormati dan memulyakan tetangga cabang keimanan yang mulia, agung)

“Sebaiknya menyakiti tetangga itu adalah upaya yang diharamkan oleh Allah alias orang yang melakukannya termasuk orang fasik, pendosa dan dinilai bermaksiyat kepada Allah,” ucap Gus Hayid.

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top