Beritabuana.co

Metropolitan

Polisi dan Pemkot Jakbar, Tabuh Genderang Perang Di Kampung Boncos

Penertipan Narkoba di Kampung Boncos

BERITABUANA.CO,  JAKARTA  – Kampung Boncos dikenal sebagai salah satu kawasan kumuh di wilayah Jakarta Barat kerap menimbukan banyak persoalan terhadap peredaran narkoba. Sehingga membuat gerah bangak kalangan terutama pihak kepolisian. Untuk itulah Genderang perang terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba di wilayah Jakarta Barat, terus ditabuh jajaran Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat.

Wilayah hitam peredaran narkoba yang menjadi sasaran dan siap diberangus adalah Kampung Boncos, Kelurahan Kota Bambu Selatan, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Pamor Kampung Boncos sebagai kampung narkoba di wilayah Jakarta Barat, menurut catatan Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat, sepanjang tahun 2017 lalu, tercatat ada 64 Laporan Polisi dengan 84 tersangka yang diamankan dari kampung boncos.

“Kita akan segera bersihkan kampung boncos dari cengkeraman para bandar, pengedar dan juga pemakai narkoba. Begitu pun kampung-kampung lainnya di wilayah Jakarta Barat, yang rawan dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Perang sudah kita mulai,” tegas Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi beberapa waktu yang lalu.

Sementara Walikota Jakarta Barat Anas Effendi, juga menegaskan kesiapan pihaknya untuk sesegera mungkin menertibkan pemukiman pada penduduk yang berlokasi di Kampung Boncos. “Kita akan bekerjasama dengan aparat kepolisian dan juga TNI Kodim 0503/JB, untuk menertibkan Kampung Boncos, yang selama ini dikenal sebagai kawasan premanisme dan kampung narkoba,” tutur Anas saat diwawancara beritabuana.co, Kamis (11/1) malam.

Asal Usul Kampung Boncos
Entah kenapa kampung ini diberi nama boncos yang berarti gagal atau sesuatu yang tidak berhasil. Kampung Boncos dikenal sebagai salah satu kawasan kumuh di wilayah Jakarta Barat. Bila masuk kedalamnya terdiri dari banyak Gang-gang di kampung tersebut terbilang sempit, saluran airnya tersumbat dan bau. Warganya pun padat dan peredaran Narkoba berseliweran di sana.Anehnya, masih banyak warga yang betah tinggal di kampung ini, meski peredaran narkoba, mulai dari ganja, sabu, putau dan sejenisnya terus mengintai anak-anak dan anggota keluarga mereka.

Kalau menengok sejarah keberadaan kampung boncos dijaman penjajahan Belanda hanya berupa tanah lapang bergunduk-gunduk. Lokasi itu dijadikan pekuburan warga Tiongkok oleh pemerintah Kolonial.

Setiap beberapa petak lahan pekuburan di Kampung Boncos, dikelola oleh para demang yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial.Lokasi pekuburan Tiongkok hanya bertahan sampai era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Pekuburan lalu dibongkar dan dipindah. Berawal dari pembongkaran inilah, Kampung Boncos perlahan-lahan menjadi perkampungan padat, yang akhirnya sekarang dikenal sebagai kampng narkoba.

Kampung Boncos kini berada di dalam wilayah administrasi Kelurahan Kota Bambu Selatan, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.Total ada dua RW disana yang kini jadi pusat peredaran Narkoba, yakni RW 3 dan RW 5.

Narkoba Masuk Awal 90-an
Salah satu warga lama di Kampung Boncos, Azwar Laware (55), mengatakan, dari cerita ayahnya, lokasi pekuburan itu mulai dihuni sekitar tahun 1975. Usai pekuburan warga Tiongkok dibongkar dan dipindah oleh Gubernur DKI, Ali Sadikin.

“Jadi ketika itu beli tanahnya ke demang-demang yang mengelola pekuburan itu,” Sejak itu, sedikit demi sedikit tiap jengkal tanah di lahan bekas pekuburan itu dikuasai. Lokasi itu pun jadi ramai. kata Azwar

Tahun 1990an baru Narkoba mulai masuk kesana. Jenis putaw yang pertama masuk dan mengubah segalanya. Kampung itu pun makin padat dan runyam. Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Suhermanto, mengatakan, tahun 2008 sudah banyak pengidap HIV di Kampung Boncos.

“Setiap kami tangkap pemakai atau pengedar Narkoba disana, pasti setelah diperiksa sudah mengidap HIV,” kata Suhermanto seraya mengakui, biasanya pemakai yang tertangkap dan sudah mengidap HIV tak akan ditahan. Sebab mengganggu kenyamanan tahanan lainnya. Dan takut virus itu menyebar. “Kami suruh berobat saja biasanya,” ujar Suhermanto.

Sementara Bripka Saut, anggota Reskrim Polsek Palmerah, bercerita bahwa kini peredaran Narkoba di Kampung Boncos sudah berubah. “Dulu RW 3 yang jadi sarangnya. Sekarang peredaran sudah bergeser di RW 5,” kata Saut kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Menurut Saut, memburu pengedar atau pemakai Narkoba di kampung boncos cenderung rumit. Apabila pelaku sudah lari ke dalam gang, polisi akan sulit mengejarnyanya.Gang-gangnya terlalu rumit, banyak percabangan. Orang mudah menghilang disana. “Saya pernah kejar pengedar, dia lalu kabur ke dalam gang di RW 5. Baru masuk sedikit, kita sudah kehilangan arah kemana dia pergi,” kata Saut.

Sebetulnya tanah di kampung boncos berstatus lahan garapan, dulunya dikuasai pemerintah kolonial bukan berupa tanah girik yang asal muasalnya berupa tanah adat dan tak pernah dikuasai kolonial.

Lalu bagaimana pembenahan tang akan dilakukan Pemkot Jakarta Barat dan Pihak kepolisian terhadap salah satu kampung yang kerap meresahkan tersebut untuk menjadi pemukiman yang tentram aman dan tidak kumuh lagi. (Badar Subur)

Barang bukti narkoba yang diamankan kepollsian saat melakukan penertiban di kampung boncos

Comments

Most Popular

To Top