Beritabuana.co

Opini

Djarot di Pilkada Sumut, Tak Sekedar Popularitas dan Elektabilitas

Oleh: Andoes Simbolon

Andoes Simbolon

PDI Perjuangan telah menetapkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) yang digelar di sejumlah provinsi tahun ini. Salah satu calon yang mendapat perhatian adalah sosok Djarot Saiful Hidayat, yang dicalonkan pada pilkada Sumatera Utara (Sumut). Pria berkumis ini dipasang dengan Sihar Sitorus sebagai calon wakil gubernurnya.

Selain menarik perhatian, pencalonan Djarot juga melahirkan tanda tanya dan pro kontra, tidak saja di dalam kandang partai banteng, tetapi juga di masyarakat. Bagi yang kontra, melihat alasan pencalonan Djarot tidak tepat, seolah sudah tidak ada kader PDI Perjuangan putra daerah yang layak atau memenuhi syarat untuk dicalonkan.

Sebaliknya, mereka yang pro, sama sekali tidak mempermasalahkan figur Djarot, yang bukan putra daerah dicalonkan sebagai gubermur Sumut. Mereka ini sepenuhnya mendukung keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputeri mencalonkan Djarot.

Alasannya karena melihat kiprah Djarot selama menjadi Walikota Blitar, wakil hingga gubernur DKI Jakarta berjalan dengan baik. Selama memimpin di Blitar dan DKI Jakarta, Djarot dianggap bersih dan mampu memajukan daerah yang dipimpinnya, banyak kemajuan pembangunan dilakukan selama menjadi Walikota Blitar dan DKI Jakarta.

Dibalik pertanyaan dan pro kontra, pencalonan Djarot diyakini bisa memenangi pemilihan itu, apalagi yang bersangkutan dipasang dengan seorang pengusaha dari putra Sumut. Mungkin pasangan Djarot – Sihar dianggap ideal dan tepat dimajukan bertarung dengan pasangan yang diusung partai politik lainnya.

Jika dilihat dari popularitas keduanya, maka sebetulnya nama kedua orang ini sudah tidak terlalu asing di masyarakat Sumut. Popularitas Djarot tidak jauh beda dengan Ahok. Meski memimpin Jakarta, nama Ahok dan Djarot juga terdengar ke daerah lain termasuk ke Sumut, khususnya ketika Ahok sedang menghadapi masalah samasa menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Hal yang sama juga ada dalam sosok Sihar Sitorus. Pada umumnya, masyarakat Sumut sudah tidak terlalu asing dengan namanya, mengingat ketokohan bapaknya DL Sitorus sudah terkenal sejak lama. Hampir semua masyarakat Sumut sudah mengetahui siapa DL Sitorus.

Karena itu, dari sisi popularitas, nama Djarot – Sihar sudah bersinar di Sumut, sehingga tidak terlalu berat mensosialisasikan nama pasangan calon ini ke masyarakat untuk masa kampanye pilkada. Tentu ini pertimbangan dari Megawati dan PDI Perjuangan mendukung mereka sebagai cagub dan cawagub. Pertimbangan ini juga yang melandasi pikiran bahwa pasangan ini lebih tinggi tingkat elektabilitasnya. Peluang untuk menang terbuka lebar.

Apakah pertimbangan seperti nantinya bisa terwujud? Jawabannya tentu masih teka teki. Apakah Djarot – Sihar mampu mengalahkan pasangan calon lain? Jawabannya juga masih misteri. Karena meraih kemenangan dalam sebuah konstetasi pemilihan ditentukan banyak faktor dan variabel, yang satu sama lain saling berkaitan. Jadi, kemenangan belum tentu bisa dalam genggaman karena faktor popularitas dan elektabilitas calon. ***

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top