Beritabuana.co

Headline

Enggan Bicara Banyak, Novanto Cuma Pasrah Menunggu Putusan Sela Sidang Tipikor Besok

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tersangka kasus dugaan kroupsi e-KTP, Setya Novanto mengaku pasrah menjelang putusan sela di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), yang akan digelar pada Kamis, 4 Januari 2018 besok.

“Kita serahkan semua ke penyidik dan jaksa penuntut umum,” kata Novanto saat diserbu pertanyaan oleh awak media di Gedung KPK, Jalan HR Rasunasaid Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (3/1).

Sayangnya, saat ditanya lebih lanjut, bekas Ketua DPR itu enggan bicara banyak soal kasus yang tengah menimpanya itu. Novanto langsung meninggalkan awak media ang telah lama menunggunya.

Di sisi lain, KPK yakin majelis hakim yang mengadili Setya Novanto dalam perkara korupsi e-KTP independen.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menyatakan jaksa pada KPK telah menjabarkan semua tanggapan atas materi eksepsi yang diajukan kubu Novanto. Jawaban jaksa sudah cukup menjelaskan.

“Kami yakin yang sudah diuraikan materi eksespsi dapat diuraikan terjawab dan terjelaskan,” ujarnya.

Keberatan kubu Novanto mengenai substansi perkara dinilai akan terang saat peradilan masuk dalam pokok perkara. KPK memiliki bukti-bukti yang siap dijabarkan di pengadilan terkait keterlibatan Novanto dalam proyek mencapai Rp 5,9 triliun itu.

Lembaga antikorupsi juga tak menutup kemungkinan bila dalam proses persidangan kubu Novanto membuka keterlibatan pihak-pihak lain. Itu justru menjadi bagian yang ditunggu publik.

Sebelumnya, Novanto didakwa korupsi bersama-sama dalam proyek KTP elektronik. Ia juga didakwa menerima uang USD7,3 juta.

Novanto mengajukan eksepsi atas dakwaan jaksa. Kubu Novanto menyatakan surat dakwaan yang diajukan KPK tidak dapat diterima karena berdasarkan penetapan tersangka yang tidak sah serta kerugian negara yang tidak nyata dan tidak pasti.

Mereka juga menilai KPK tidak cermat, tidak jelas, serta tidak lengkap menyusun surat dakwaan. Isi surat dakwaan Novanto berbeda dengan surat dakwaan terdakwa korupsi KTP-el lainnya, yakni Irman, Sugiharto, dan Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Kubu Novanto juga menyinggung perbedaan waktu terjadinya (tempus delicti) dan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) antara dakwaan Irman, Sugiharto, Andi Narogong, dengan surat dakwaan Novanto. Kuasa hukum menilai jika keempatnya didakwa bersama-sama, seharusnya tak ada perbedaan tempus dan locus delicti dalam dakwaan.

Jaksa penuntut umum telah menanggapi pada sidang, Kamis, 28 Desember 2017. Jaksa pada KPK menilai surat dakwaan yang telah dibacakan pada 13 Desember 2017 sesuai ketentuan Pasal 143 ayat (2) huruf a dan b KUHAP. Eksepsi terdakwa harus ditolak.

“Penuntut umum memohon kepada majelis hakim untuk menolak eksepsi penasihat hukum, menyatakan surat dakwaan sudah sesuai KUHAP, dan melanjutkan persidangan ini sesuai dakwaan penuntut umum,” ujar Jaksa KPK. (Ardi)

Comments

Most Popular

To Top