Beritabuana.co

Nasional

Kejari Jaksel Belum Eksekusi Tiga Terpidana Karyawan BRI

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan sampai saat ini belum mengeksekusi tiga karyawan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terkait kasus pemalsuan 59 kilogram emas milik seorang nasabah, Ratna Dewi. Padahal Mahkamah Agung (MA) telah menolak permohonan kasasi ketiga terdakwa tersebut sejak 4 Juli 2017 silam.

“Kami selaku kuasa hukum Ratna Dewi mendesak agar Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan segera mengeksekusi Ketiga terdakwa karena perbuatan ketiganya,” ujar Petrus dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (11/12), di Jakarta.

Menurutnya, ketiga terpidana yakni Rotua Anastasi, Agus Mardianto dan Rahman Arif

hingga kini bebas berkeliaran padahal telah ada putusan kasasi dari MA atau perkaranya telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Dijelaskan Petrus, dalam berkas perkara ketiga terpidana disebutkan telah melakukan tindak pidana perbankan yang merugikan saksi pelapor/korban Ratna Dewi.

Secara terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Raimel Jesaja justru berdalih belum bisa mengeksekusi lantaran belum pihaknya menerima salinan putusan kasasi MA tersebut.

“Tunggu saja dalam satu atau dua bulan ini, pasti kita eksekusi. Sekarang kami kan belum menerima salinan putusannya,” kata Raimel saat dikonfirmasi hal tersebut, di kantornya,  akhir minggu kemaren.

Selain itu, pihaknya masih menghormati ketiganya karena sedang mengajukan upaya peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung.

Namun saat ditanya mengenai terpidana yang mengajukan PK, menurutnya tidak menghalangi upaya eksekusi karena sudah ada putusan tetap atau inkracht. Dia menyatakan, memang aturannya seperti itu tapi pihaknya masih menghargai hak ketiganya untuk mengajukan PK. “Jadi tunggu saja, pasti dieksekusi karena kami belum menerima salinan putusannya,” kilahnya.

Kasusnya berawal dari fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sesuai akta nomor 42 tanggal 27 Juli 2012 dengan jaminan 59 batang emas logam mulia kepada PT Boengsu Djaja, yang diikat dengan akta jaminan gadai No 43 tanggal 27 Juli 2012.

Sebelum dilakukan penandatanganan akad kredi,  terlebih dulu telah dilakukan pencocokkan antara nomor seri yang tercantum dalam emas batangan dengan sertifikatnya.

Hasilnya saat itu tidak ada masalah atau dapat disimpulkan barang bukti jaminan adalah asli emas. Namun saat terjadi proses penebusan barang jaminan, terjadi persoalan hukum dimana kondisi barang jaminannya sudah tidak sesuai seperti awal penandatanganan akan kredit.

Selanjutnya, dalam persidangan tingkat pertama, ketiga terdakwa masing-masing dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp5 miliar terkait pemalsuan 59 kilogram emas milik nasabah Ratna Dewi tersebut.

Terpidana Rotua Anastasia adalah mantan Kepala Administrasi Kredit BRI Jakarta II, kemudian terpidana Agus Mardianto merupakan mantan Junior Account Officer I BRI Wilayah Jakarta II dan terpidana Rahman Arif adalah mantan Wakil Pimpinan BRI Jakarta II.

Saat itu, Ketua majelis hakim Suhartono di PN Jakarta Selatan mengungkapkan bahwa Rahman, Rotua dan Agus Mardianto, terbukti melanggar Pasal 49 ayat (2) huruf b Undang-Undang Perbankan dan Pasal 263 tentang pemalsuan surat berita acara pemeriksaan emas.

Ketiga terpidana juga dikenai hukuman denda Rp5 miliar atau subsider tiga bulan kurungan terkait kasus pemalsuan 59 kilogram emas tersebut. Mereka dinyatakan melanggar prosedur perbankan terkait perubahan fisik 59 Kg logam mulia senilai Rp32 miliar milik Ratna Dewi yang dijaminkan untuk proses gadai di Kantor Wilayah BRI Jakarta II.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 1407K/Pid.Sus/2015 tanggal 4 Oktober 2017 jo Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No. 192/Pid/2014/PT.DKI tertanggal 18 Agustus 2014 dan Jo Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1450/Pid.B/2013/PN. Jkt. Sel tanggal 10 Maret 2014 yang berbunyi sebagai berikut menolak Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi III/Terdakwa Rahman Arif tersebut.

Kemudian MA mengabulkan Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi I yakni Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 192/Pid/2014/PT. DKI tanggal 18 Agustus 2014 yang mengubah Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1450/Pid.B/2013/PN. Jkt. Selatan tanggal 10 Maret 2014.

Sementara terdakwa Agus Murdianto berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 1357K/Pid.Sus/2015 tertanggal 4 Oktober 2017 Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 201/Pid/2014/PT. DKI tanggal 25 Agustus 2014 dan Jo Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1176/Pid.B/2013/PN. Jkt. Sel tanggal 3 Maret 2014 yaitu menolak Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi II/Terdakwa Agus Murdianto.

MA mengabulkan Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi I, Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Serta membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 201/Pid/2014/PT. DKI tanggal 25 Agustus 2014 yang mengubah Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1176/Pid.B/2013/PN. Jkt. Sel tanggal 3 Maret 2014.

Sedangkan, terdakwa Rotua Anastasia Sinaga berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 1409K/Pid.Sus/2015 tanggal 4 Mei 2016 Jo Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 137/Pid/2014/PT. DKI tanggal 18 Agustus 2014 dan Jo Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1175/Pid.B/2013/PN. Jkt. Sel tanggal 3 Maret 2014 yaitu menolak Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa Rotua Anastasia Sinaga.

MA juga mengabulkan Permohonan Kasasi dari Pemohon Kasasi Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan serta membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 137/Pid/2014/PT. DKI tanggal 18 Agustus 2014 yang mengubah Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1175/Pid.B/2013/PN. Jkt. Sel tanggal 3 Maret 2014. Oisa

Comments

Most Popular

To Top