Beritabuana.co

Headline

Ramai-ramai Menolak Pengakuan Trump atas Yerusalem

BERITABUANA.CO, LONDON – Pada Rabu (6/12) kemarin orang-orang Arab dan Muslim di Timur Tengah menolak pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Beramai-ramai mereka menilai hal itu sebagai tindakan provokasi di wilayah yang bergejolak. Warga Palestina mengatakan Washington telah menghilangkan peran utamanya sebagai mediator perdamaian.

Uni Eropa dan PBB juga menyuarakan kekhawatiran atas keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel ke Yerusalem. Akibatnya untuk kemungkinan menghidupkan kembali perdamaian damai Israel-Palestina.

Hal yang membuat sebagian besar sekutu AS keluar melawan kebijakan Trump dan kebijakan internasional yang luas mengenai Yerusalem. Inggris mengatakan langkah tersebut tidak akan membantu usaha perdamaian dan Yerusalem pada akhirnya harus dibagi oleh Israel dan sebuah negara Palestina di masa depan.

“Perdana Menteri Inggris Theresa May tidak setuju dengan cara Trump merangkul Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebelum kesepakatan status akhir karena hal ini tidak mungkin untuk membantu memelihara perdamaian di wilayah tersebut,” kata juru bicara Perdana Menteri Inggris, Kamis (7/12).

Namun, juru bicara May menyambut harapan Trump untuk mengakhiri konflik dan pengakuannya bahwa status terakhir Yerusalem, termasuk batas-batas di dalam kota, harus tunduk pada negosiasi antara Israel dan Palestina.

Prancis menolak keputusan sepihak itu sambil meminta ketenangan di wilayah tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan ia tidak mendukung langkah “unilateral” Trump.

“Status Yerusalem adalah masalah keamanan internasional yang menyangkut seluruh masyarakat internasional. Status Yerusalem harus ditentukan oleh orang Israel dan Palestina dalam rangka perundingan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Macron.

“Prancis dan Eropa terikat pada solusi dua negara – Israel dan Palestina – meninggalkan berdampingan dalam kedamaian dan keamanan di dalam perbatasan internasional yang diakui dengan ibu kota Yerusalem dari kedua negara bagian,” imbuhnya.

“Untuk saat ini, saya mendesak agar semua pihak untuk tenang dan setiap orang bertanggung jawab. Kita harus menghindari semaksimal mungkin menghindari kekerasan dan mendorong dialog,” tukasnya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan bahwa tidak ada alternatif untuk solusi dua negara dan Yerusalem adalah masalah status akhir yang harus diselesaikan melalui pembicaraan langsung. (Daf)

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top