Beritabuana.co

Headline

Anggota DPRD dan Pejabat Pemprov Diciduk KPK : Bodo Amat, Cape dan Bosan

Oleh: Andoes Simbolon

Andoes Simbolon

APA lagi komentar atau tanggapan kita kepada anggota DPRD dan pejabat Pemprov Jambi yang di OTT KPK kemarin? Jika pengamat ditanya, barangkali mereka sudah malas menjawabnya, dia akan menyatakan “cape atau bosan”. Bahkan, untuk memberi solusi atas perbuatan korupsi oleh penyelenggara negara juga sudah emoh. Bodo amat, rasain aja sendiri, biar aja lu dikerangkeng!

Respons para pengamat yang masa bodo seperti ini bisa dimengerti dan bisa dimaklumi. Wajar saja. Kenapa? Seperti kita ketahui, hingga hari ini sudah tidak terhitung jumlah pejabat pemerintah baik di pusat maupun di daerah yang dipenjarakan Komisi Pemberantasan Korupsi. Begitu juga dengan politisi mulai dari anggota DPR dan DPRD sudah banyak menghuni hotel predeo karena mereka terbukti korupsi. Bahkan lebih ironis lagi, oknum aparat penegak hukum juga ikut-ikutan melanggar hukum dengan terseret dalam perbuatan tidak terpuji itu.

Korupsi di negeri ini terus berulang, belum berhenti seperti yang dilakukan oleh anggota DPRD dan pejabat Pemprov Jambi ini. Modusnya hampir sama, ke 10 orang yang di OTT KPK itu diduga kongkalikong, suap menyuap untuk memuluskan pembahasan APBD. Buktinya, penyidik KPK menemukan uang sebanyak Rp 1 miliar saat OTT. Pejabat Pemprov memberi uang suap ke oknum anggota DPRD tersebut.

Celaka bukan? APBD saja masih diolah, digoreng-goreng mereka demi kepentingan pribadi. Pada hal, sudah menjadi kewajiban mereka menyusun dan mengesahkan APBD yang memang dibuat untuk kepentingan masyarakat. Salah satu tugas atau fungsi dewan memang menyusun anggaran atau budgeting. Tapi dalam prakteknya, justru tugas dan fungsi yang dimiliki oleh DPRD disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab seperti kejadian di Provinsi Jambi.

Lebih celaka lagi dan membuat kita terheran-heran adalah keberanian anggota DPRD dan pejabat Jambi ini melakukan suap menyuap ditengah gencarnya pemerintah dan KPK memberantas korupsi. Seolah mereka tidak takut dengan KPK yang bm memiliki taji menangkap pelaku korupsi.

Apa mereka budeg dan buta? Sebegitu derasnya pemberitaan tentang KPK yang dengan mudah menangkap pejabat karena dugaan korupsi. Dibagian mana pun di Indonesia ini, lembaga anti rasuah bisa mendeteksi ada persekongkolan perbuatan tindak pidana korupsi. Lewat OTT, KPK telah banyak menciduk pejabat korup.

Jadi, jika kemarin masih ada anggota DPRD bersekongkol dengan pejabat pemerintah melakukan suap menyuap, itu tidak lain karena mereka sudah tidak punya telinga dan buta sehingga berani menabrak rambu-rambu hukum. Coba kalau telinga dan matanya dibuka lebar-lebar, jelas tidak akan ada suap menyuap.. Sebab, pemberantasan korupsi yang digencarkan KPK akan membuat mereka menghentikan niat jahatnya.

Karena itu seperti respons pengamat tadi, biar saja ditangkapin KPK, salah sendiri koq tidak kapok melihat pejabat terdahulu yang sudah banyak dipenjarakan KPK. Bodo amat! ***

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top