Beritabuana.co

Komunitas

Karyawisata Sekolah Berkebutuhan Khusus Ephphatha di Taman Safari Tuju Sosialisasi

Foto bersama siswa dan siswi bersama kepala sekolah dan guru sekolah berkebutuhan khusua ephphata indonesia

BERITABUANA.CO, BOGOR – Kegiatan Field Trip atau karyawisata yang diselenggarakan Sekolah dan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Ephphatha Indonesia, Bekasi, Jawa Barat di Taman Safari, Cisarua Bogor, Jawa Barat membuat banyak orang yang juga sedang melakukan wisata di tempat dan hari yang sama, Kamis (23/11/2017), terkagum dan memuji.

Kenyataan itu terlihat dari beberapa contoh yang terlihat langsung oleh www.beritabuana.co, tatkala ada salah seorang anak berkebutuhan khusus sedang berada tempat information dan di situ terdapat Automated Teller Machine = Automatic Teller Machine), bila di Indonesiakan sebagai Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Menuju Taman Safari Sambil Bernyanyi dan bermain

Di tempat itu, seorang anak, yang menurut orang tuanya Sugandi, sangat senang melihat orang sedang mengambil uang di ATM. Elang, nama anaknya itu diakui senang melihat orang mengambil uang di ATM pada saat memencet tombol tersedia dan ke luarnya uang sesuai yang diinginkan konsumen atau pemilik uang tersebut.

Saat itu ada orang mengambil uang, Elang yang sedang beristirahat bersama bapaknya mendekati sambil tertawa senang melihatnya. Awalnya orang tersebut tak menghiraukan, tapi begitu uang ke luar Elang medekat, dan si orang itu agak kaget dan melihat Elang dengan wajah agak marah. Tapi begitu melihat di kaosnya ada tulisan dari kelompok anak sekolah berkebutuhan khusus, orang itu malah berbuat sebaliknya mengelus kepala Elang sambil berkata, “senang ya dik?”

Para guru sedang memberikan pengarahan kepada wali dan orang tua murid

www.beritabuana.co pun melihat langsung orang tua Elang langsung menghampiri dan meminta maaf kepada orang itu. Orang tersebut dengan wajah ramah langsung menerima salam tangan maaf orang tua Elang, dan berkata, “tidak apa-apa. Awalnya memang saya kaget. Tapi lihat tulisan di kaos saya sangat paham sekali. Tidak apa-apa Pak. Saya juga minta maaf,” katanya berlalu sambil melontar senyum kepada Elang.

www.beritabuana pun tak berhenti sampai di situ, terus mengikuti kegiatan karyawisata sekolah berkebutuhan khusus tersebut. Sampai akhirnya kembali melihat, bagaimana petugas-petugas di Taman Safari memperlakukan mereka dengan sopan dan lembut.

Di antaranya, saat salah seorang dari bagian anak berkebutuhan khusus itu yang menggunakan kursi roda akan menaiki mobil keliling. Sangat sulit menaikannya, salah seorang guru wanita pun nampak kewalahan, petugas tak segan-segan memanggil bagian pengamanan setempat untuk membantu menaiki mobil keliling tersebut.

Para siswa dan siswi berfoto bersama Ibu Guru

“Ia Pak. Gak masalah. Ini bagian dari pelayanan Taman Safari. Lagi pula saya tahu pak anak-anak ini agak lain dari anak biasanya. Saya harus bantu Pak. Saya juga punya anak di rumah,” kata petugas kereta keliling yang diperkirakan www.beritabuana.co tak terlalu paham masalah autisme, tapi sangat prihatin terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah dan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Ephphatha Indonesia.

Salah satu orang tua murid, Wicaksono yang sempat di wawancarai, menjelaskan kegiatan Field Trip dilakukan sekolah Ephphatha rutin setiap tahun sekali.

Kegiatan ini, aku Wicaksono, memang melibatkan langsung wali atau orang tua murid yang tujuannya untuk membantu guru mengawasi anak-anaknya.

Menanti bus untuk perjalanan pulang

“Saya rasakan memang tak mungkin hanya para guru. Para guru semuanya wanita. Mereka sudah disibukan dengan jadwal, pengaturan makan dan lainnya. Jadi kalau tanpa bantuan orang tua murid, saya yakin tak sanggup. Kan Anda tahu bagaimana itu anak-anak berkebutuhan khusus,” jelas Wicaksono.

Wicakaobo pun menjelaskan sambil menunjuk ke para gerombolan anak-anak, “lihat. Kalo gak ada pendamping. Mana mungkin sanggup!”

Iya, nampak sekali anak-anak tersebut berlari ke sana ke mari. Ada yang dikejar oleh gurunya dan orang tuanya. Terlihat sangat ‘lucu’ tapi sebenarnya membuat kita Iba.

Saat ditanya siapa kepala sekolah sekolah dimaksud, Wicaksono menyebut Yunike. Dengan guru Ibu Rina (guru senior dan sangat berpengalaman),  Ibu Jessica (guru kelas enam),  Ibu Jessica, Ibu Putri, Ibu Tabita, Ibu Lidya dan lainnya. (Kds)

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top