Beritabuana.co

Metropolitan

Kejati DKI Sita Apartemen Rp1,3 Miliar Milik Tersangka Korupsi Olimpiade Siswa

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tim penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, menyita sebuah apertemen senilai Rp1,3 miliar yang terletak di Jalan Setia Budi, Jakarta Selatan.

Tindakan penyitaan ini terkait penyidikan kasus dugaan korupsi kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Direktorat Pembinaan SMP, Kemendukbud.

“Apartemen itu milik tersangka, Allen Dharmawan. Dia juga sudah kami tahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur,” kata Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DKI, Sarjono Turin, di kantornya, Rabu (8/11).

Sarjono Turin juga menambahkan, tersangka Allen merupakan rekanan di Kemendikbud yang berperan melakukan penyediaan kamar hotel bagi siswa peserta Olimpiade.

Terkait berkas perkara Allen Dharmawan, Sarjon Turin menegaskan dalam waktu dekat perkaranya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Sebelumnya, tim penyidik Pidsus Kejati juga berhasil menyita uang sebesar Rp 600 juta dari 2 hotel di Kalimantan Timur.

“Sebelumnya, kami telah menyita uang Rp600 juta dari 2 hotel berbeda di Kalimantan Timur, Town house, hotel Hakaya,” kata Sarjono menandaskan.

Kasusnya berawal ketika tersangka Allen diminta oleh Sumharmoko yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk mencari hotel guna pelaksanaan O2SN 2013. Allen sendiri sejak 2012 hingga 2013 memang kerap menjadi fasilitator atau calo untuk mencari hotel tersebut.

Setelah mendapatkan hotel yang diminta, tersangka langsung menyarankan Sumharmoko untuk meminta agar ULP-Dit Pembinaan SMP Ditjen Dikdas Kemendikbud membuat dokumen proses penunjukan langsung kepada dua perusahaan pemilik hotel bersangkutan.

Kedua perusahaan itu adalah PT Putra Balikpapan Adiperkasa selaku pemilik Town House Bukit Dalam Indah Hotel dengan nilai pembayaran Rp 1.003.200.000 dan PT Sepinggan Sarana Utama sebagai pemilik Hotel Hakaya Balikpapan dan Hotel Atlit Sempajaya Samarinda dengan nilai pembayaran Rp 3.345.550.000.

Namun faktanya, jumlah pembayaran tersebut terdapat kelebihan sebesar Rp 490 juta untuk PT Putra Balikpapan Adiperkasa dan Rp 1,3 miliar untuk PT Sepinggan Sarana Utama. Akibat kasus ini negara mengalami kerugian negara sekitar Rp 1,9 miliar.

Sedangkan, status Sumharmoko yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kini sudah divonis 1,6 tahun penjara. Oisa

Print Friendly, PDF & Email
Comments

Most Popular

To Top